Seluruh Arsip

: Azan pitu

Azan Pitu
sebenarnya tidak ada ada naskah tertulis yang bisa dijadikan acuan sejarah asal usul dan alasan Sunan Gunungjati memulai tradisi azan pitu. Menurut penuturan turun temurun dari kaum masjid, dan penjual buku di depan masjid,  Ada dua versi penuturan soal asal usul tradisi azan pitu.

pertama, tradisi azan pitu bermula saat Mesjid Sang Cipta Rasa yang masih beratapkan rumbia terbakar hebat. Berbagai upaya dilakukan untuk memadamkan api, namun selalu gagal. Sampai akhirnya istri Sunan Gunungjati Nyi Mas Pakungwati menyarankan agar dikumandangkan azan. Namun api belum juga padam. Azan kembali dikumandangkan oleh dua orang sampai berturut-turut tiga orang sampai enam orang, namun api belum juga padam. Konon api baru padam setelah azan dikumandangkan oleh tujuh orang muazin. "Sejak saat itulah, tradisi azan pitu dilestarikan hingga saat ini.

2.Kedua,
azan pitu merupakan titah Sunan Gunungjati sebagai strategi untuk mengalahkan pendekar jahat berilmu hitam tinggi bernama Menjangan Wulung. Saat itu, Menjangan Wulung bertengger di kubah masjid, menyerang setiap orang yang hendak ke masjid baik untuk azan maupun hendak salat. Setiap muazin yang melantunkan azan selalu meninggal terkena serangan Menjangan Wulung. Setelah Sunan Gunungjati meminta tujuh orang melantunkan azan sekaligus berbarengan. Menjangan Wulung akhirnya musnah, ia terpental dari masjid bersamaan dengan meledaknya kubah masjid. Namun, sayangnya satu dari tujuh amir masjid tersebut meninggal.

Selain azan pitu, tradisi yang sampai saat ini masih dilestarikan di masjid ini adalah khutbah yang menggunakan bahasa Arab. Meski jama'ahnya tidak mengerti, suasana tetap hening, semua jama'ah mendengarkan khotbah dengan hidmat. Makna penggunaan bahasa Arab adalah agar masyarakat terdorong untuk belajar bahasa Arab
.

Masjid yang dikenal sebagain Masjid Agung Sang Cipta Rasa, dibangun wali Allah Sunan Gunung Jati, tahun 1480 M, ada yang mengatakan 1478 M. Di dalamnya ada tiang yang disebut tiang saka, konon tiang ini dibuat oleh Sunan Gunungjati dari sisa-sisa kayu yang disatukan. Lewat tiang ini, Sunan Gunungjati memberi pesan bahwa persatuan yang kokoh, bisa menopang beban seberat apapun. Kini tiangnya disangga besi agar bisa menopang kayu yang sudah cukup lama. Masjid ini dikenal juga sebagai masjid kasepuhan, karena berada di lingkungan Keraton Kasepuhan.
Di dalam masjid terdapat dua pagar, kalau dihitung cukup untuk 8 orang jama'ah,  yakni di bagian kanan depan di samping mimbar khotib, dan kiri belakang. Dua ruangan khusus ini hanya boleh diisi oleh keluarga Sultan Kasepuhan dan Sultan Kanoman, dua kesultanan yang masih bertahan di Cirebon sampai saat ini.

Batu bata merah di dinding menjadi ciri khas masjid ini, dengan pintu masuknya yang hanya cukup untuk satu orang, dan itupun harus merunduk, karena kecil dibuat rendah, hanya seukuran badan manusia. Sehingga siapapun yang masuk atau keluar, harus merunduk. Maknanya adalah, saat beribadah di hadapan Allah SWT, manusia tidak boleh sombong, semua sama di hadapan-Nya, yang membedakannya hanyalah taqwa.

Jama'ah yang datang, bukan hanya dari seputaran Cirebon saja, tapi juga dari berbagai kota , seperti Eko, Uka, Solihin, ya'kub, Husni, M.Salim dan muchroji, yang datang dari jl. Sanjaya dan kemajuan jakarta. mr, jum'at 25 Sept2009.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Produk Cantik Ok Rek

Perhiasan dari Martapura