Dakwah dan Pemberdayaan Masyarakat

Dakwah dan Pemberdayaan Masyarakat

Oleh Tarmizi Taher
(Ketua Umum Pimpinan Pusat Dewan Masjid Indonesia)

Dimensi dakwah yang sering kali terabaikan oleh para dai dan ulama adalah persoalan pengembangan masyarakat. Sekarang ini, umat Islam telah berjumlah lebih dari satu miliar orang yang diharapkan akan terus meningkat. Banyak bagian dari dunia Muslim yang tertinggal secara teknologi dan ekonomi.

Mereka sangat menderita dalam memenuhi kebutuhannya setiap hari dan sangat gagap terhadap perkembangan teknologi. Akibatnya, komunikasi ilmu pengetahuan dan informasi agama Islam yang mestinya dengan mudah bisa diakses, karena kedua kesulitan itulah, menjadikan mereka terus terbelakang dan terus mengalami pembodohan.

Untuk menanggulangi hal itu, tentu saja dibutuhkan kerja sama untuk mengentaskan kemiskinan dan melakukan pemberdayaan terhadap mereka yang terbelakang. Hal itu bisa berwujud dalam bentuk pendidikan keterampilan, pembukaan lapangan kerja, penanggulangan pemakaian obat-obat terlarang, atau pelatihan teknologi tepat guna.

Agenda itu mesti segera dijalankan dengan kerja sama antara organisasi Islam dan pemerintah atau lembaga lain. Sebab, pada dasarnya, tujuan dakwah adalah untuk menyejahterakan umat manusia di muka bumi dan akhirat nanti. Bila keadaan mereka terus merasa tertekan, kesusahan, dan mengalami pembodohan; bagaimana mungkin ibadah yang menekankan pada ketenangan dan kekhusyukan dapat mereka jalankan?

Hal itulah yang seharusnya juga menjadi tantangan dalam dakwah Islam. Para dai atau mubaligh hendaknya juga ada yang mendalami persoalan-persoalan yang terjadi di masyarakat. Dalam analisis tentang perubahan-perubahan kemasyarakatan, pembangunan dan pemberdayaan masyarakat adalah bentuk dakwah yang mesti dilakukan. Berdasarkan sebuah hadis Nabi SAW dinyatakan, "Kefakiran dapat membawa ke kekufuran."

Oleh karena itu, untuk menghindari kekufuran, kemiskinan yang menimpa umat Islam harus segera dikurangi jika tak bisa dilenyapkan. Maka dari itu, tema utama dakwah ke lapisan bawah adalah dakwah bil hal, yaitu dakwah yang menekankan perubahan dan perbaikan kondisi material lapisan masyarakat yang miskin. Dengan perbaikan kondisi material itu, diharapkan dapat dicegah kecenderungan ke arah kekufuran atau pindah agama karena mendapatkan godaan santunan ekonomi sehingga iman mereka beralih.

Untuk mewujudkan tatanan masyarakat seperti itu, sumber daya manusia yang melakukan tugas dakwah Islam di era ini tentu saja harus juga memfokuskan dirinya pada wilayah etis-emansipatoris. Terlebih lagi ketika kapitalisme dan globalisasi yang sangat tidak mengindahkan kemanusiaan dan keadilan melaju tanpa henti. Kesadaran kritis-emansipatoris sebagai manifestasi pembumian ayat-ayat Alquran dan sunah Nabi SAW oleh para dai itu tidak harus diartikan sebagai gerakan antikemapanan atau lembaga swadaya masyarakat.

Sebab, kesadaran semacam ini dalam bingkai ilmu pengetahuan dianggap sebagai perwujudan dari sinergi epistemologi dan aksiologi. Dengan pendekatan model inilah, dakwah <I>billisan, bil qalam<I>, dan <I>bil hal<I> bisa dijalankan dalam satu waktu.

Agenda pemberdayaan
Agenda pemberdayaan masyarakat juga sesuai dengan yang dimaksud oleh Allah SWT sebagaimana tercantum dalam Alquran surah Ali-Imran ayat 110 yang berbunyi, "Engkau adalah umat terbaik yang diturunkan di tengah manusia untuk menegakkan kebaikan, mencegah kemungkaran (kejahatan), dan beriman kepada Allah."

Saya memandang bahwa kontribusi nilai-nilai agama dalam dakwah ini adalah untuk memperbaiki masyakarat, asalkan gerakan dakwah itu bukan sekadar disampaikan tanpa dievaluasi. Contoh sekarang ini adalah kuliah Subuh di televisi yang dilakukan pada pukul lima pagi. Yang bangun pukul lima itu hanya beberapa orang yang sudah kuat agamanya. Kadang-kadang, yang memberi ceramah kuliah Subuh itu sudah kita kenal semua. Mestinya, ceramah agama itu pada waktu-waktu luang. Justru, waktu luang sekarang ini kebanyakan diisi cerita setan, cerita tuyul, dan cerita-cerita yang tidak mendidik anak bangsa.

Berkenaan dengan dakwah yang cenderung menimbulkan 'konflik', saya memandang perlu diperhatikan beberapa hal. Pertama, pentingnya pendidikan. Kedua, pentingnya menghilangkan kesenjangan. Dalam konteks Indonesia, barangkali itu adalah pemerataan karena inilah yang membuat kegagalan pembangunan di era masa lalu. Pada masa itu, di samping tradisi ekonomi kita yang lumayan, kebijakan-kebijakan dalam bidang ekonomi itu banyak diselewengkan.

Dua ratus 'anak haram' konglomerat dari pembangunan ekonomi bangsa adalah 'anak haram' pembangunan ekonomi Orde Baru. Nah, karena itu, dalam pembangunan sekarang ini, jangan sekali-kali kita diarahkan mencetak konglomerat-konglomerat baru yang memaafkan konglomerat-konglomerat lama yang telah berutang pada uang rakyat.

Seiring dengan perkembangan zaman, ilmu pengetahuan, dan teknologi yang banyak memengaruhi persepsi dan kebutuhan manusia, dakwah Islam memang harus melakukan evaluasi diri, proyeksi, dan penyusunan strategi agar tetap aktual dan kontekstual dengan kebutuhan masyarakat. Dan, dakwah bisa dijadikan sebuah alternatif solusi terhadap berbagai problem dan tantangan kehidupan yang semakin bertumpuk-tumpuk ini.

Dalam meletakkan prioritas solusi alternatif itu, kita harus mengacu pada struktur bangunan dakwah yang bagus berdasarkan analisis, berdasarkan terapi yang total. Sehingga, kontradiksi umat Islam terbesar di dunia sekaligus umat yang terkorup di dunia dapat kita kurangi, bahkan dihilangkan. Di samping itu, para mubaligh kita harus senantiasa memperbarui isi dan penampilan dakwahnya. Jalan yang bisa dilakukan paling tidak adalah dengan melakukan iqra`, banyak membaca. Kedua, para mubaligh seharusnya juga senantiasa mengasah pikiran sebagaimana disindir oleh Allah dalam Alquran.

Dengan begitu, kita harus senantiasa menggunakan pikiran dan analisis dalam struktur dakwah yang kita sajikan kepada masyarakat. Analisis harus kita utamakan dulu sebelum mengambil kesimpulan-kesimpulan umum yang akan kita perhatikan. Dan, yang lebih penting lagi adalah para mubaligh mencari tahu apa sebenarnya masalah utama masyarakat kita. Itu yang menjadikan prioritas pengobatan pertama kita. Kalau kita mendapati pasien sakit liver dan sakit panu, livernya dulu kita obati. Jangan panunya dulu yang diobati. Sebab, panu itu tidak akan membunuh orang. Begitu juga dengan persoalan-persoalan yang terjadi di masyarakat.

Oleh karena itu, di samping ayat-ayat tentang moralitas dalam kehidupan sehari-hari dengan sesama manusia, Alquran juga menekankan prinsip keadilan. Dalam prinsip keadilan ini, setiap manusia dituntut untuk berlaku adil, baik kepada dirinya sendiri maupun orang lain. Maka, masyarakat dan komunitas Muslim yang terbuka serta yang bisa saling melakukan amar ma'ruf nahi munkar dan introspeksi adalah masyarakat ideal yang dicita-citakan oleh Islam. Kita harus menilai secara sangat positif bahwa dakwah harus memberikan sumbangan untuk nilai-nilai kemanusiaan. Sebab, di samping sasaran dakwah itu adalah akhlak manusia, juga harus memerhatikan persoalan kemanusiaan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar