Seluruh Arsip

Ayo memakai jilbab


Dasar hukum pakaian Jilbab :
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan para wanita yang beriman, supaya mereka menutup tubuhnya dengan Jilbab … ”
(Al-Qur’an : Surat Al-Ahzab Ayat 59)
“Dan katakanlah kepada wanita-wanita beriman supaya mereka menahan penglihatannya, dan memelihara kehormatannya, dan tidak memperlihatkan perhiasannya (kecantikannya) kecuali yang nyata kelihatan (muka dan telapak tangan hingga pergelangan). Maka julurkanlah kerudung-kerudung mereka hingga ke dadanya. ..”
(Al-Qur’an : Surat An-Nur Ayat 31)
“Kami (wanita) diperintahkan mengeluarkan para wanita yang sedang haid pada hari raya dan juga gadis pingitan untuk menghadiri jama’ah dan doa kaum muslimin, tetapi wanita yang haid supaya menjauh dari tempat sholatnya. Seorang perempuan bertanya : Ya Rosulullah, salah satu dari kami tidak mempunyai kain Jilbab. Jawab Nabi SAW : hendaklah temannya meminjamkan untuk dia Jilbabnya.”
(Hadis Nabi dari Ummu Atiyah yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)
“Bahwasannya Asma binti Abi Bakar RA masuk ke tempat Rosulullah SAW dengan memakai pakaian yang tipis (tembus pandang), maka Rosulullah berpaling darinya seraya berkata : Hai Asma, sesungguhnya perempuan itu apabila ia telah dewasa (sampai umur), maka tidak patut menampakkan sesuatu dari dirinya, melainkan ini dan ini {Rosulullah menunjuk muka dan kedua telapak tangan hingga pergelangannya sendiri}.”
(Hadis Nabi dari Aisyah yang diriwayatkan oleh Abu Dawud)

: Polusi Suara

Oleh Ahmad Syafii Maarif

Dimotori oleh pemusik Slamet Andul Syukur, Akademi Jakarta (AJ) bersama Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), selama tiga hari (21-23 Jan 2010) mengadakan seminar dengan tema Mengatasi Polusi Kebisingan, bertempat di Wisma PGI, Jl Teuku Umar, Jakarta Pusat. Dalam seminar ini diundang para pakar THT, neurologi, akustik, lingkungan, sosiologi, dan hukum. 

Tujuan seminar ada dua: a. merumuskan masalah polusi kebisingan; b. mencari jalan keluar dari masalah tersebut. Dalam beberapa rapat AJ sebelumnya, di samping istilah polusi kebisingan juga dipakai istilah polusi suara yang dijadikan judul Resonansi ini.

Dari sisi bahasa, perkataan polusi (pollution ) berasal dari bahasa Latin  polluere , kemudian dalam bahasa Inggris dalam bentuk kata kerja menjadi  to pollute (membuat kumuh, kotor, tidak murni, atau merusak, sehingga berbahaya bagi kesehatan fisik dan mental). Dalam kamus Longman:  Dictionary of Contemporary English , ada pula kalimat ini:  Violence on television is polluting the minds of children (Kekerasan dalam tayangan tv sedang merusak minda anak-anak). 

Artinya tayangan seperti itu dapat mengotori pikiran dan perasaan anak-anak, bahkan dapat membuat karakter mereka menjadi kumuh dan kejam. Dalam contoh ini, polusi sudah memasuki ranah yang lebih luas: ranah pemandangan.

Di samping dua tujuan yang hendak dicapai, ada pula dua sasaran: panjang dan pendek, yang hendak didiskusikan oleh seminar ini. Sasaran jangka panjang dirumuskan dalam formula: Menyelamatkan seluruh rakyat Indonesia dari bahaya polusi kebisingan yang mengerikan, tetapi belum banyak disadari. Korbannya secara psikis, biologis, dan ekonomis sudah berjatuhan, tetapi dianggap belum sebagai bahaya nasional.

 Maka, untuk mencegah bahaya serius yang lebih jauh, diperlukan strategi dan kerja keras yang efisien dan efektif. Pilihan lain tidak ada. Untuk sasaran jangka pendek adalah: Menyebarluaskan kesadaran tentang bahaya polusi kebisingan melalui berbagai program yang berkesinambungan.

Anggota AJ umumnya sudah berkepala enam, tujuh, dan bahkan delapan. Tujuan warga renta ini hanya satu: hari depan Indonesia harus diselamatkan, jangan terus dikotori oleh perbuatan kumuh anak-anaknya yang tidak tahu diri. Titik! Tidak ada lagi agenda-agenda kekuasaan yang ingin diraih; tidak ada lagi kekayaan duniawi yang sedang diimpikan, sekalipun sebagian mereka menjalani hidup di tapal batas kesederhanaan. 

Beberapa anggota AJ sudah dibantu tongkat agar tetap dapat bergerak, tetapi mereka adalah warga negara setia dan sangat sadar tentang nilai tanggung jawab. Mereka akan menangis, manakala bangsa ini seperti tidak ada yang mengurus secara lurus dan sungguh-sungguh. 

Kemubaziran dan korupsi berjibun di mana-mana, sementara jumlah anak jalanan sebagai generasi yang akan hilang akibat kemiskinan tidak semakin berkurang. Sebagian anak-anak tak berdaya ini telah menjadi korban sodomi dari orang tua yang terlihat santun dan dermawan. Indonesia sarat oleh beragam kontradiksi, sementara visi ke depan sebagian politisi kita telah lama mati suri.

Selanjutnya, saya ingin memberikan kasus konkret tentang polusi suara ini. Sekalipun penduduk pantai barat Sumatra masih saja dicekam oleh kemungkinan terjadinya gempa besar dan tsunami, angkot-angkot di Kota Padang tetap saja menjadi salah satu sumber polusi suara yang sangat tidak beradab. 

Mungkin karena sudah berlangsung lama, suara-suara kaset yang diputar dengan melengking sehingga menyakitkan anak terlinga, para penompang tampaknya tidak ada yang protes. Hampir tidak ada yang menyadari bahwa polusi suara semacam itu akan berpengaruh buruk terhadap kesehatan fisik dan jiwa mereka. 

Tidak hanya sebatas itu. Angkot-angkot pun dihiasi dengan beraneka gambar penuh warna. Di ruang tempat duduk yang bergelincit (penuh sesak) itu asap rokok pun mengepul, sehingga menjadi sempurnalah penderitaan mereka yang tak terbiasa dengan lingkungan sumpek semacam itu. 

Orang Minang yang sudah lama merantau, kemudian pulang kampung sekali-sekali, harus siap siaga menghadapi polusi semacam ini. Pasti akan timbul perasaan minoritas dalam kondisi angkot yang saling berebut penumpang itu. Saya tahu para sopir yang menambang adalah warga yang sedang mencari sesuap nasi. Penghasilan rata-rata mereka hanyalah sebatas agar dapur tidak berhenti berasap. 

Karena tekanan hidup dan persaingan yang keras, boleh jadi mereka tidak sempat memahami bahwa polusi suara yang berasal dari kaset yang diputar sungguh berbahaya dan merusak. Inilah panorama lain dari Republik Pancasila setelah hampir 65 tahun kita meninggalkan era proklamasi.

: Sastra & Karakter Bangsa

Oleh: Zaim Uchrowi

1901. Tahun itu bukan sekadar tahun pertama abad ke-20 yang juga ditandai dengan kelahiran Soekarno. Di tahun itu, terdapat peristiwa yang kita--seabad lebih sesudahnya--perlu belajar buat membangun bangsa. Peristiwa tersebut terkait dengan kunjungan Raja Siam ke Jawa yang saat itu menjadi kekuasaan Hindia Belanda.

Sang Raja bukan hanya ingin melebarkan kekuasaan dengan mencaplok Patani di peralihan abad itu hingga kawasan tersebut sampai sekarang menjadi wilayah Thailand. Melainkan, ia juga ingin menjadi pemimpin besar yang mampu memakmurkan masyarakatnya. Untuk itu, raja merasa perlu studi banding ke Hindia Belanda, khususnya di Jawa. Ada beberapa kemajuan Jawa yang membuatnya tertarik.

Pertanian Hindia Belanda maju pesat. Kawasan ini menjadi pengekspor sejumlah komoditas ke pasar dunia. Di antaranya adalah gula. Industri pertanian berkembang maju pada zamannya. Sarana transportasi sangat memadai, baik dalam wujud jaringan kereta api maupun pelabuhan laut modern seperti di Surabaya. Thailand ingin menjadi seperti itu. Tentu ia berkunjung Keraton Solo, selain juga ke tanah Parahyangan--kawasan yang menurut seloroh diciptakan Tuhan sambil tersenyum.

Sangat banyak yang diperoleh Raja Siam dari kunjungan itu. Kemajuan Thailand saat ini adalah hasil kepedulian kerajaan pada bidang pertanian. Itu tak lepas dari studi banding ke kawasan Nusantara ini lebih seabad silam. Para tukang kebun Kerajaan Siam bahkan didatangkan dari Jawa, yakni para tukang kebun keraton. Namun, lebih dari urusan kebun dan pertanian, Thailand ternyata juga mengimpor sastra klasik Nusantara ini untuk membangun karakter bangsa.

Pembangunan karakter bangsa di Thailand dilakukan dari sekolah-sekolah. Medium yang digunakannya adalah cerita-cerita Menak yang diadaptasi  dari cerita Menak Indonesia. Saat di sini cerita Menak telah dilupakan, di Thailand justru menjadi pengajaran wajib. Seorang Thailand yang menulis disertasi tentang cerita 'Menak' tutur kawan menyebut bahwa sastra klasik itu efektif dalam membangun spirit kebangsaan masyarakat Thailand. Karya-karya tersebut menjadi semacam cerita sejarah Cina yang dikemas dalam bentuk cerita-cerita silat. Cerita demikian berperan penting dalam membentuk jiwa kebangsaan Cina.

Siam atau Thailand yang seabad lalu telah belajar ke negeri ini telah lebih maju dari kita. Di bidang pertanian dan pangan, mereka telah  menjadi salah satu pemain penting dunia. Bahkan juga, di dunia industri.  Semua itu tak lepas dari karakter bangsa yang terus mereka bangun, antara lain, melalui karya-karya sastra. Sedangkan kita, selama ini cenderung menempatkan budaya semata sebagai pelengkap. Budaya paling hanya diposisikan sebagai tontonan, dan belum menjadi landasan bagi kemajuan bangsa secara menyeluruh. Apalagi, sastra yang lebih dipandang sebagai urusan pinggiran.

Upaya Kementerian Pendidikan Nasional selama bertahun-tahun untuk sekadar menyelenggarakan olimpiade sastra pun tak kunjung mendapat dukungan. Baru tahun ini, gagasan tersebut mulai mengerucut. Meskipun pada tingkat yang masih terbatas, langkah mengangkat sastra akan dapat diwujudkan. Mudah-mudahan itu menjadi awal baik bagi apresiasi sastra di Indonesia. Tidak hanya oleh kalangan sastrawan, tetapi juga seluruh bangsa. Sudah sangat terang, betapa besar peran sastra dalam pembangunan budi pekerti atau karakter bangsa. Tak ada bangsa maju yang tak menjadikan sastra sebagai pilar pembangun karakternya.

: Menghijaukan Desaku

A Helmy Faishal Zaini
(Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal)

Rabu pagi, 13 Januari lalu, Istana diguyur hujan gerimis, ternyata menambah asri nan hijau suasana pelataran di taman tengah Istana. Di taman itu, berdiri pohon trembesi (Samanea saman) yang sudah berumur 130 tahun. Pagi itu saya menyimak betul apa yang dikatakan Bapak Presiden SBY kepada para menteri dan peserta budi daya trembesi terkait pentingnya pembangunan nasional yang berwawasan lingkungan.

Saya kagum dengan apa yang dipaparkan dan menjadi perhatian Presiden SBY tersebut. Kekaguman saya ini, bukan karena saya pembantu Presiden, sebagai Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal, melainkan Presiden SBY memiliki komitmen yang begitu tinggi terhadap masalah-masalah lingkungan yang perlu dijaga dan dilestarikan bersama.

Saya kira, saya diundang oleh Bapak Presiden SBY dalam pertemuan itu karena daerah-daerah tertinggal yang menjadi tugas utama saya juga harus turut serta melestarikan masalah-masalah lingkungan dengan cara membangun dan mengentaskan daerah-daerah tertinggal menjadi garda terdepan sebagai green village.

Persoalan perlunya penghijauan demi menjaga kelestarian lingkungan memang menjadiconcern Presiden SBY dan pemerintah. Hal ini karena sebagaimana diketahui bahwa dunia sekarang dihadapkan pada perang melawan perubahan iklim. Dalam laporan yang dikeluarkan oleh Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) atau 'Panel Antarpemerintah Tentang Perubahan Iklim' mengatakan bahwa 90 persen aktivitas manusia selama 250 tahun terakhir membuat planet kita semakin panas. Sejak Revolusi Industri, tingkat karbondioksida beranjak naik mulai dari 280 ppm menjadi 379 ppm dalam 150 tahun terakhir (Wikipedia, 2009).

IPCC juga menyimpulkan bahwa 90 persen gas rumah kaca yang dihasilkan manusia, seperti karbondioksida, metana, dan dinitrogen oksida, telah secara drastis menaikkan suhu Bumi. Sebelum masa industri, aktivitas manusia tidak banyak mengeluarkan gas rumah kaca, tetapi pertambahan penduduk, pembabatan hutan, industri peternakan, dan penggunaan bahan bakar fosil menyebabkan gas rumah kaca di atmosfer bertambah banyak dan menyumbang pada pemanasan global.

Indonesia merupakan salah satu negara yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim. Berbagai bencana yang terkait dengan perubahan iklim telah terjadi hampir di seluruh wilayah negeri ini. Mulai dari banjir, kekeringan, tanah longsor, badai tropis, sampai meningkatnya prevalensi penyakit-penyakit tropis yang terkait dengan perubahan iklim, seperti malaria, demam berdarah, dan diare (Arif Fiyanto,Pemerintah Indonesia dan Krisis Iklim, 2009).

Menurut data dari Kementerian Negara Lingkungan Hidup, sepanjang 2008 saja, tidak ada satu bulan pun yang bebas dari bencana terkait perubahan iklim di negeri ini. Berbagai bencana yang terkait dengan perubahan iklim datang silih berganti di berbagai wilayah Indonesia, menewaskan ratusan korban jiwa, dan menyebabkan kerugian finansial triliunan rupiah.

Komitmen Pemerintah
Presiden SBY dalam berbagai kesempatan telah menyampaikan komitmennya untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Pada 2007, saat Indonesia menjadi tuan rumah konferensi perubahan iklim dunia di Bali, Presiden SBY mengatakan bahwa Indonesia akan segera mengambil langkah nyata dalam mengurangi emisi gas rumah yang dihasilkan Indonesia, baik dari sektor hutan maupun sektor energi.

Pada pertemuan G8 di Jepang, Presiden SBY kembali mengatakan komitmennya untuk mengurangi emisi gas rumah kaca Indonesia, terutama dari sektor kehutanan. Presiden SBY mengatakan bahwa pada 2009 emisi gas rumah kaca dari sektor hutan akan berkurang sebesar 50 persen, lalu pada 2012 akan berkurang sebesar 75 persen, dan pada 2025, emisi gas rumah kaca Indonesia dari sektor kehutanan akan berkurang sebesar 95 persen (Arif Fiyanto, 2009).

Baru-baru ini, dalam rangka penyusunan rencana aksi yang diperbarui dalam KTT Perubahan Iklim di Kopenhagen, Denmark, Presiden SBY berkomitmen untuk menurunkan emisi karbon atau gas emisi hingga 26 persen pada 2020. Dalam rencana aksi yang baru, sistem dan mekanisme bagi pertanggungjawaban sebuah program untuk pengurangan emisi akan semakin kredibel.

Dalam upaya untuk mencegah perubahan iklim, Presiden SBY juga melakukan upaya-upaya konkret. Di antara upaya yang dilakukan oleh Presiden SBY adalah Pencanangan Gerakan Menanam Pohon Nasional. Gerakan tersebut dicanangkan di Puslit Limnologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Dalam kesempatan itu, Presiden SBY mencanangkan perlunya gerakan menanam pohon satu orang satu pohon (one man one tree).

Menurut Presiden SBY, dengan adanya gerakan tersebut akan membuat Indonesia lebih lestari dan hijau sekaligus bisa memperbaiki kesejahteraan. Presiden SBY juga mengatakan bahwa gerakan menanan pohon secara nasional akan berhasil jika seluruh pimpinan, yakni di pemerintah pusat, kepala daerah, juga pimpinan informal, bertanggung jawab secara moral dan memberikan contoh dalam menjaga lingkungan dan hutan.

Dalam upaya memasyarakatkan gerakan menanam dan memelihara pohon secara nasional sebagai sikap hidup dan budaya bangsa, Presiden SBY menetapkan tanggal 28 November 2008 sebagai Hari Menanam Pohon Indonesia. 

Penetapan tersebut dituangkan dalam bentuk Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2008 tentang Hari Menanam Pohon Indonesia. Tanggal tersebut juga ditetapkan sebagai awal dimulainya penanaman pohon serentak di seluruh Indonesia. 

Peran KPDT
Apa yang menjadi komitmen Presiden SBY dan pemerintah tersebut perlu kita dukung bersama dan direalisasikan dalam bentuk nyata. Sehubungan dengan itu, Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal (KPDT) tidak akan tinggal diam. Oleh karena itu, arah kebijakan yang dilakukan KPDT dalam upaya membangun desa-desa tertinggal, aspek yang harus diperhatikan dalam membangun desa-desa tersebut adalah prioritas pada aspek tata ruang, aspek lingkungan, dan kelestarian alam. Semuanya akan mengacu pada paradigma pembangunan yang berkelanjutan (sustainability) dan berwawasan lingkungan. Di antara kebijakan yang dilakukan oleh KPDT adalah berupa pengelolaan, pemanfaatan dan pelestarian kawasan lingkungan alam pedesaan, serta revitalisasi kawasan-kawasan strategis pedesaan. Singkat kata, arah kebijakan KPDT dalam membangun desa-desa tertinggal berupaya mewujudkan: desaku yang permai adalah desaku yang hijau.

Pertanyaan Penting sebelum Bertunangan

Lima Pertanyaan Penting sebelum Bertunangan
Penulis : Yulia Permata Sari
BERTUNANGAN lantas menikah tentu menjadi impian hampir semua perempuan di muka bumi. Meskipun pertunangan bukanlah komitmen sehidup semati tetapi ini merupakan langkah serius yang tidak bisa diputuskan tanpa berpikir panjang dan berulang kali. Tentu saja Anda tidak ingin keliru membuat keputusan yang akan memengaruhi kebahagiaan di kemudian hari bukan? 

Tanyakan lima pertanyaan ini kepada diri sendiri sebelum membuat keputusan penting dalam hidup Anda: 

1. Apakah Anda benar-benar mencintai pasangan? Yakinkah Anda dirinya bersungguh-sungguh mencintai Anda? Mampukah Anda membayangkan menghabiskan sisa hidup Anda bersama dengannya dalam segala suka dan duka? Jika jawaban atas semua pertanyaan tersebut adalah 'ya', maka itu merupakan pertanda awal yang baik. 

2. Sudah siapkah Anda mengucapkan selamat tinggal kepada kehidupan lajang Anda? Jika secuil saja keraguan melintas dalam diri, itu berarti Anda belum siap untuk menikah, yang berarti Anda juga belum siap untuk bertunangan. Jika Anda merasa tersiksa dengan kemungkinan tidak dapat lagi bersenang-senang dengan teman perempuan atau flirting

3. Apakah Anda merasa membuat keputusan secara terburu-buru? Apakah Anda membuat keputusan tersebut dengan terpaksa karena tekanan dari pihak lain seperti orang tua? Atau, mungkinkah Anda merasa harus menikah karena semua teman perempuan Anda telah melakukannya? Keputusan untuk menikah seharusnya dibuat dengan kepala dingin dari kedua belah pihak, tanpa ada unsur paksaan dari pihak mana pun. Jika Anda selalu merasa cemas dan khawatir mengenai pertunangan, maka kemungkinan besar ada sesuatu yang salah dengan keputusan itu. 

4. Seberapa stabil hubungan Anda dengan pasangan selama ini? Jika hubungan yang terjalin kerap diwarnai dengan perkelahian tanpa henti, maka itu bisa menjadi pertanda bahwa Anda dan pasangan belum siap untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius seperti bertunangan dan menikah. Walaupun tidak ada tolok ukur pasti mengenai kapan sebuah hubungan bisa bergerak ke level tersebut, Anda dan pasangan seharusnya sudah benar-benar merasa nyaman satu sama lain. 

5. Seberapa cocok gaya hidup Anda dengan pasangan? Pernikahan tidak sama seperti saat Anda dan pasangan berkencan. Untuk membuat suatu pernikahan berhasil, diperlukan berbagai kompromi. Itu berarti, Anda berdua harus siap melakukan sesuatu yang bahkan tidak disukai demi membuat pihak lain merasa bahagia. Sebagai contoh, jika Anda suka clubbing sementara pasangan lebih senang berdiam di rumah, Anda harus siap untuk merasa bahagia hanya dengan menonton televisi bersamanya di ruang keluarga.
 

Sujud Tilawah

Oleh M Sinwani

''Wajahku bersujud kepada Zat yang telah menciptakannya, membentuknya, dan membuka pendengaran dan penglihatannya dengan daya upaya dan kekuatan-Nya. Mahasuci Allah, Pencipta yang paling bagus.''

Demikian arti dari doa yang dibaca dalam sujud tilawah, sujud yang dilaksanakan manakala terbaca atau terdengar ayat-ayat yang bertanda khusus dalam Alquran, yaitu ayat-ayat sajadah. Aktivitas sujud, selain untuk mengingat eksistensi diri yang tercipta dari tanah dan akan kembali ke tanah, juga merefleksikan seluruh organ tubuh pada bentuk kesyukuran yang hakiki.

Ayat-ayat sajadah terdiri atas 15 ayat yang tersebar di beberapa surat dalam Alquran. Makna yang terkandung di dalamnya sangatlah esensial. Ia menunjukkan apa yang di langit maupun di bumi seluruhnya bersujud ke haribaan Allah. Begitu pula manusia, merupakan kelaziman baginya untuk tunduk patuh mengabdikan diri kepada-Nya. (QS Ar-Ra'd [13]:15).

Manusia terkadang merasa dirinya paling besar dan hebat saat segala kebutuhannya terpenuhi, kemauannya tercapai, dan omongannya didengar oleh banyak orang. Padahal, telah diingatkan oleh Allah akan jati diri manusia melalui takbir, rukuk, dan sujud dalam shalat. Itu pula yang berlaku pada sujud tilawah. Sujud ini diawali dengan takbir yang menyimbolkan pengakuan akan kebesaran-Nya; diiringi pujian untuk-Nya; dan diakhiri dengan salam. Ibnu Umar RA berkata, ''Adalah Nabi Muhammad SAW yang membacakan Alquran kepada kami. Maka, apabila melewati ayat sajadah, ia bertakbir dan sujud, dan kami pun sujud bersamanya.'' (HR Abu Dawud).

Sujud tilawah hukumnya sunah, tidak dibebankan kewajiban atas pelaksanaannya. Pahala terkandung di dalamnya saat dikerjakan, dan tiada berdosa saat ditinggalkan. Berkata Umar bin Khathab RA, ''Hai manusia, kita melewati ayat sujud. Barang siapa bersujud, ia mendapat pahala, dan barang siapa tidak bersujud, ia tidak berdosa.''

Hanya saja, saat esensi sujud tilawah dipahami dengan baik, maka akan muncul keterpanggilan untuk sujud. Pemahaman merupakan tolok ukur dari seluruh pekerjaan. Baik tidaknya pekerjaan maupun ibadah seseorang tergantung seberapa dalam ia memahaminya. Pemahaman pula yang menumbuhkan keyakinan dan optimisme dalam sujud.

Sujud adalah manifestasi penyerahan diri kepada sang Khalik secara totalitas tanpa tendensi apa pun; sarana mengingat kekuasaan-Nya; pelebur segala macam penyakit hati: riya', sombong, dan dengki; penghapus segala hal pembeda dalam diri manusia: gelar, pangkat, dan keturunan. Seluruhnya sama, hanya takwa yang menjadikan seseorang istimewa di hadapan Allah SWT.

Retropeksi Malari 1974

Oleh : Ina Mirawati
(Pegawai Arsip Nasional Republik Indonesia)

Tulisan ini sebenarnya hanya merupakan retropeksi dari berbagai gerakan mahasiswa pada masa Orde Baru, khususnya Peristiwa Malari tahun 1974. Pringgodigdo (1977) mengatakan, pengawasan demokrasi dilakukan oleh lembaga-lembaga kemasyarakatan dan untuk kepentingan rakyat. 

Dalam bukunya Menyulut Lahan Kering Perlawanan , FX Rudy Gunawan (2009) mengutip ungkapan Mao Tze Tung, ''Bakarlah rumput dari yang paling kering.'' Menurutnya, rumput kering yang kerap menyala pada masa Orde Baru adalah gerakan mahasiswa melawan otoriterianisme dan kapitalisme yang tidak hanya melahirkan penindasan dan kemiskinan, tapi juga menciptakan lawan-lawannya. Makin luas penindasan, makin luas pula perlawanan. Ibarat api dilahan kering, ia membakar ke mana-mana.

Gebrakan gerakan mahasiswa yang berakhir dengan kerusuhan paling mengerikan pada masa Orde Baru terjadi ketika para mahasiswa pada bulan Mei 1998 berhasil menggulingkan Orde Baru pimpinan presiden Soeharto. Pada Peristiwa Mei 1998 itu, ribuan mahasiswa menuntut reformasi dan dihapuskannya KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme) dengan menduduki gedung DPR/MPR. 

Malari 1974
Setiap pergerakan mahasiswa mempunyai nilai dan karakter yang dinamis. Berbeda dengan gerakan mahasiswa tahun 1998, tahun 1974 konsep politik mahasiswa berubah haluan pada konsep  Moral Force . Artinya, mahasiswa hanya akan menjadi aktor politik ketika situasi bangsa sedang kritis, lepas kekritisan  back to campuss . 

Kritikan yang dilayangkan oleh mahasiswa hanya sebatas permasalahan dan mereka tidak mengumpulkan massa yang besar. Mahasiswa menjadi semakin responsif ketika melihat adanya kesenjangan sosial di kalangan masyarakat yang sangat jauh, apalagi ketika TMII dibangun dengan biaya sangat besar dengan menggusur rumah tinggal rakyat. 

Mereka juga menilai hal itu sebagai bentuk pemborosan dana negara. Mahasiswa juga kecewa dengan ketidakjujuran pemilu pertama pada masa Orde Baru 1972. Mereka juga berteriak karena adanya isu-isu korupsi di kalangan pejabat. Mahasiswa melihat peranan Jepang sangat menonjol karena investasi mereka meningkat pada industri pabrik di Jawa. Ini menghambat pertumbuhan pengusaha pribumi (Ricklefs: 2004). Kegusaran mahasiswa mencapai puncaknya ketika PM Jepang Kakuei Tanaka datang ke Indonesia. 

Mereka membakar 800 mobil bikinan Jepang dan 100 gedung serta merampok banyak toko yang menjual produk-produk Jepang. Mahasiswa menuntut perubahan strategi pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang dijalankan Orde Baru. Tujuan sebenarnya dari gerakan mahasiswa tersebut adalah membuat perubahan, bukan menjatuhkan penguasa.

Perspektif arsip
Semua kejadian mengenai Peristiwa Malari 1974 dituangkan dalam sebuah laporan, tulisan, atau kritikan. itu semua tersimpan dalam sebuah dokumen yang bernilai sejarah tinggi di Arsip Nasional Republik Indonesia. Liv Maykland pada Kongres ICA di Montreal, Canada, tahun 1992 menyatakan bahwa  a world without archives would be a world with no memory, no culture, no legal rights, no understanding of the roots of history and science, and no identity .

Beberapa laporan yang menggambarkan Peristiwa Malari dapat diketahui dari khazanah arsip, di antaranya pernyataan Soeharto dalam upacara pengambilan sumpah ketua dan wakil ketua Mahkamah Agung serta melantik menteri kehakiman dan menteri pendidikan dan kebudayaan pada 22 Januari 1974 di Istana Merdeka. Soeharto menilai, peristiwa tersebut disebabkan oleh penggunaan kebebasan yang tidak berhati-hati dalam demokrasi. 

Demokrasi menjadi tidak terkendali. Secara langsung atau tidak langsung, demokrasi telah merangsang atau membuka peluang bagi timbulnya kerusuhan-kerusuhan, seperti perusakan-perusakan dan pembakaran-pembakaran yang jelas merugikan rakyat.

Hasil wawancara dengan Mayjen Ali Moertopo, deputi III Bakin, pada 21 Januari 1974 menyimpulkan bahwa Malari adalah subversi dan menjurus pada makar karena ada kehendak mengubah UUD 1945 dan menggulingkan pimpinan nasional yang sah. Demikian juga pernyataan menhankam/pangab Jenderal Panggabean dalam jumpa pers bersama menteri luar negeri dan menteri penerangan di Departemen Penerangan pada 13 Februari 1974. 

Dia menegaskan adanya ancaman yang sudah jelas serta ingin menumbangkan pemerintah dan presiden dengan cara-cara anarki dan inkonstitusional. Mereka disinyalir menggunakan teori-teori yang dimulai dengan hal-hal yang menyangkut strategi pembangunan, masalah bantuan luar negeri, kepincangan-kepincangan dalam masyarakat ataupun pemerintahan, penanaman modal asing, serta utang-utang pemerintah sekarang, kemudian sampai pada organ-organ pemerintah seperti Kopkamtib dan akhirnya menjurus pada kepala negara sendiri.

Berdasarkan semua data yang diperoleh dari arsip, dinyatakan bahwa gerakan mahasiswa selalu ditunggangi oleh unsur-unsur tertentu yang sengaja mengail di air keruh hingga menciptakan kerusuhan. Dengan demikian, hal ini bisa dijadikan cerminan bahwa jika mahasiswa melakukan demonstrasi, mereka harus benar-benar melakukan demonstrasi berdasarkan tuntutan yang berangkat dari kepentingan masyarakat. 

Untuk itu, mereka harus menjaga agar pergerakan mahasiswa itu tidak ditunggangi atau diprovokasi, terutama dalam iklim demokrasi yang semakin terbuka. Dengan data-data dari arsip, kita dapat menelaah dan mempelajari sehingga menjadi lebih bijak dalam menangani setiap kejadian agar tidak terulang lagi. Masa lalu memang tidak bisa dilupakan, apalagi jika itu merupakan sejarah.

Nestapa Gaza

Oleh Azyumardi Azra

Pergantian tahun ternyata bukanlah saat-saat menyenangkan di Palestina, tepatnya di Jalur Gaza. Bila pada pergantian tahun 2009 lalu, wilayah Jalur Gaza menjadi sasaran pengeboman Israel, awal 2010 bangsa Palestina yang mendiami wilayah sempit ini sehingga disebut sebagai Gaza strip kembali menjadi sasaran, tidak hanya oleh Israel, tapi juga Mesir. 

Israel mengerahkan kekuatan militernya untuk menghancurkan terowongan-terowongan bawah tanah yang merupakan life-line, jalur kehidupan bagi masyarakat Palestina Gaza untuk bisa bertahan hidup.

Dalam pada itu, Mesir kian memperketat perbatasannya dengan Gaza melalui pembangunan tembok baja untuk menutup mulut terowongan-terowongan dari Gaza. Tembok baja sedalam 20 meter dari permukaan tanah sepanjang lebih dari 10 kilometer agaknya bakal cukup efektif menutup mulut terowongan, sehingga memperkecil kemungkinan masuknya makanan dan kebutuhan-kebutuhan hidup lainnya ke Gaza.

Sementara itu, Mesir juga hampir tidak mengizinkan masuknya bantuan kemanusiaan internasional melalui Rafah, satu-satunya pintu masuk dari perbatasan Mesir ke Gaza. Ini terlihat dari kasus akhir pekan lalu di mana dua anggota parlemen Inggris, George Galloway dan Ron McKay, diusir Pemerintah Mesir. Padahal, keduanya memimpin konvoi kemanusiaan yang terdiri atas sekitar 550 orang dari 17 negara untuk membawa makanan, alat-alat kesehatan, dan bahkan peralatan perawatan gigi.

Tembok baja Mesir, pengusiran delegasi kemanusiaan, dan tembok tinggi di perbatasan Gaza dengan Israel membuat sempurnanya penderitaan sekitar 1,5 juta masyarakat Gaza. Sejak Israel dan Mesir menutup perbatasannya dengan Gaza pada pertengahan Juni 2007, krisis kemanusian terus melanda penduduk Palestina Gaza. Dan, perkembangan pahit akhir-akhir ini jelas membuat krisis tersebut semakin parah; dan kenestapaan itu tampaknya tidak bakal berakhir dalam waktu dekat karena berbagai alasan.

Pertama, di kalangan bangsa Palestina sendiri, pertikaian dan perpecahan di antara Hamas di Gaza dan Fatah di Tepi Barat tetap berlanjut. Meski ada upaya-upaya mewujudkan rekonsiliasi di antara kedua faksi bangsa Palestina ini, perdamaian masih jauh daripada kenyataan. Kedua faksi belum bisa mengatasi perbedaan sikap masing-masing terhadap Israel dan Amerika Serikat; jika Hamas tetap ingin melenyapkan Israel, Fatah lebih bersahabat kepada negara Zionis tersebut. Karena itulah masyarakat Tepi Barat yang dikuasai faksi Fatah hampir tidak melakukan pembelaan secara serius terhadap saudara-saudara mereka sesama Palestina di Gaza yang didominasi Hamas.

Kedua, negara-negara Arab tetap saja tidak terlalu peduli pada bangsa Palestina, khususnya masyarakat Gaza. Mereka tetap melakukan pembiaran terhadap tindakan-tindakan tidak berperikemanusiaan yang terus dilakukan oleh Israel dan Mesir terhadap bangsa Palestina di Gaza. Liga Arab tetap saja tidak mampu mengatasi perbedaan-perbedaan sikap di antara para anggotanya dalam hal masalah Palestina, khususnya Hamas. Akibatnya, Israel terus merasa leluasa melakukan tindakan apa pun terhadap Gaza. Sementara itu, Liga Arab juga tidak berani menekan Mesir agar lebih manusiawi memperlakukan bangsa Palestina, karena negara ini merupakan salah satu kekuatan dominan di dalam Liga Arab.

Ketiga, perhatian dunia tidak lagi terpusat pada masalah Palestina. Sebaliknya, perhatian kekuatan-kekuatan besar seperti AS dan sekutu-sekutunya lebih terfokus pada upaya mengatasi peningkatan kekerasan di Pakistan, Afghanistan, Irak, dan Yaman. Media-media internasional dan juga nasional seperti di Indonesia misalnya tidak lagi menjadikan krisis kemanusiaan di Gaza sebagai salah satu berita utama. Akibatnya, publik internasional dan nasional tidak lagi banyak mengetahui kenestapaan anak manusia yang kian mendalam di Gaza.

Semua realitas ini memperlihatkan kian suramnya masa depan bangsa Palestina, khususnya mereka yang bermukim di Gaza. Perpecahan dan pertikaian multilevel di antara bangsa Palestina sendiri dan juga di antara negara-negara Arab-- membuat penyelesaian konflik di Palestina sangat sulit; dan dengan begitu, membuat kian sulitnya perwujudan sebuah negara Palestina merdeka yang berdaulat penuh. Padahal, salah satu kunci pokok perwujudan negara Palestina tersebut dan sekaligus perdamaian di antara Palestina dan Israel adalah kesatuan sikap dan langkah di antara bangsa Palestina dan juga negara-negara Arab.

Dan, tidak kurang pentingnya adalah tekanan dunia internasional, khususnya AS dan Uni Eropa terhadap Israel dan juga Mesir. Kedua negara ini adalah sekutu terdekat AS di Timur Tengah; keduanya merupakan negara-negara penerima bantuan keuangan dan militer terbesar dari Amerika. Dan, karena itu, AS berada dalam posisi yang tepat untuk membuat Israel dan Mesir untuk lebih menghormati hak-hak hidup masyarakat Palestina di Gaza khususnya. Masalahnya, AS membiarkan saja kedua negara sekutunya berlaku semaunya.

Apa yang bisa dilakukan Indonesia? Tidak banyak yang bisa dibuat negara ini, kecuali dengan tetap menyatakan bahwa Indonesia mendukung terwujudnya sebuah negara Palestina merdeka yang berdaulat penuh. 

Memang, Pemerintah Indonesia kelihatannya memiliki pretensi untuk berbuat lebih konkret bagi bangsa Palestina; tetapi tetap saja, Pemerintah Indonesia tidak mampu berbuat banyak karena berbagai komplikasi dan keterbatasan.

Ketika Suami tak Lagi Menafkahi

Fikih Muslimah

Oleh 
Yusuf Assidiq

Seorang suami wajib menafkahi istrinya dengan cara yang ma'ruf (baik). 

Hidup berumah tangga ibarat mengarungi samudera.  Terkadang tenang, namun sesekali datang ombak besar yang akan menguji ketangguhan biduk rumah tangga. Kehidupan pasangan suami-istri dalam berumah tangga pun banyak dihadapkan pada kerikil-kerikil serta pernik-pernik hidup. 

''Rumah tangga adalah mempersatukan dua keunikan, keunikan suami dan keunikan istri,'' papar Guru Besar Psikologi Islam, Prof Ahmad Mubarok dalam bukunya bertajuk Psikologi Keluarga. Menurut dia, jika keunikan suami dan istri bersinergi, maka rumah tangga yang sakinah bisa tercapai.

Selain mampu mempersatukan dua keunikan, pasangan suami-istri pun harus memahami hak dan kewajiban masing-masing.  Salah satu ketentuan yang paling mendasar dalam sebuah rumah tangga,  seorang suami wajib memberikan nafkah kepada istri dan anak-anaknya dengan cara yang halal dan baik.

Secara harfiah, nafkah berarti harta atau semacamnya yang diinfakkan atau dibelanjakan oleh seseorang. Sedangkan secara istilah, nafkah merupakan kewajiban suami atas istri dan anak-anaknya berupa uang, sandang, pangan, tempat tinggal dan sebagainya. 

Alquran surat  al-Baqarah ayat 233 menyebutkan, ''Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma'ruf.'' Ibnu Katsir  dalam tafsirnya menjelaskan, kewajiban memberikan nafkah dengan ma'ruf adalah berdasarkan kemampuan dan kebiasaan yang berlaku, dengan tanpa berlebihan, serta tanpa bakhil (menyempitkan). 

''Juga disesuaikan dengan kemampuannya di dalam kemudahannya, pertengahannya dan kesempitannya,'' ungkap Ibnu Katsir.  Terkait nafkah, baik Alquran maupun hadis memang tidak menyebutkan  kadar atau ukuran tertentu yang semestinya diberikan. Alquran hanya menggariskan nafkah yang diberikan seorang suami untuk istri dan anaknya haruslah ma'ruf.

Sedangkan Rasulullah  SAW menetapkan nafkah harus bisa mencukupi istri dan anaknya. Menurut Ibnu Taimiyah, syariat memang tidak menetapkan berapa jumlah nafkah yang wajib diberikan suami kepada istri dan anak-anaknya. Akan tetapi, ketentuannya berdasarkan tiap-tiap wilayah, keadaan ekonomi suami istri dan kebiasaan keduanya. 

Lalau bagaimana jika suami tidak memberikan nafkah kepada istri dan anaknya? Para ulama dan fukaha memandang masalah ini sebagai salah satu pemicu keretakan biduk rumah tangga.  Ulama terkemuka Syekh Yusuf al-Qardhawi sangat menyesalkan jika ada suami yang enggan melaksanakan kewajibannya menafkahi istri dan anaknya.

Ketua Persatuan Ulama Internasional itu  mengidentikkan tindakan suami yang tak menafkahi istrinya sebagai tindakan membelenggu leher istri.  ''Dia tidak memberinya belanja yang mencukupi dan dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhannya yang logis,'' paparnya. 

Adapun Syekh Ibrahim Muhammad al-Jamal berpendapat jika suami tak memenuhi kewajibannya itu sebuah biduk rumah tangga akan rentan karam. Menurutnya, istri bisa menuntut cerai kepada suaminya apabila tidak lagi tak menafkahi. Hal itu, sambung dia, merupakan bagian dari hak istri atas suaminya. 

''Istri bisa mengajukan gugatan cerai kepada hakim apabila mengalami penderitaan terus menerus. Maka itu, dia boleh menuntut cerai,'' paparnya dalam buku /Fiqih Wanita/. Sejatinya, pendapat itu merujuk kepadapada Imam Malik, Imam Asyafi'i, serta Imam Ahmad yang membolehkan perceraian lewat keputusan hakim jika suami tidak lagi memberi nafkah. 

Dalam pandangan mereka, tidak memberi nafkah berarti tidak dapat mempertahankan istri dengan cara yang ma'ruf.  Meski begitu, lanjut Syekh Ibrahim Muhammad, dalam Islam perceraian adalah sesuatu yang boleh dilakukan, tapi sangat dibenci Allah. Sehingga, pada masalah ini hendaknya diketahui dulu penyebab suami tidak lagi memberikan nafkah. 

Syekh al Qardhawi melihat ada tipe suami yang kikir dan pelit terhadap istrinya. ''Tidak selayaknya suami bersifat kikir dalam memberi belanja kepada istri,'' urai Syekh al Qardhawi mengutip pendapat Imam Ghazali dalam buku /Fatwa Kontemporer/. 

Adapun Syaikh Umar Sulaiman al Asyqar menambahkan ada kalanya ketiadaan pemberian nafkah itu lantaran suami memang tidak mampu, baik akibat dipecat dari pekerjaannya, atau karena menderita sakit.   Mengenai hal ini, Abu Malik Kamal bin as Sayid Salim menyarankan supaya istri bisa bersabar terhadap kesusahan suaminya. 

Ia juga hendaknya terus mendampingi bahkan membantu semampunya.  Sebuah pasangan yang mampu mempersatukan dua keunikan akan dapat bertahan dalam gelombang besar dan badai sekalipun. Menurut Prof Mubarok, sesungguhnya, Tuhan telah menjamin rezeki hambanya.  Rezeki yang diberikan lewat suami atau pun istri haruslah dipandang sebagai rezeki bersama sekeluarga.

Lihat profil Facebook saya

facebook
Ayuna Fajrin
Ayuna Fajrin memiliki:
6 teman
0 foto
0 catatan
1 pesan dinding
0 grup

Lihat profil Facebook saya


Hai Kawan,

Saya membuat profil Facebook yang dapat saya kirimi foto, video, dan acara saya dan saya ingin menambahkan Anda sebagai teman sehingga Anda dapat melihatnya. Sebelumnya, Anda perlu bergabung dengan Facebook! Setelah bergabung, Anda dapat juga membuat profil Anda sendiri.

Terima kasih,
Ayuna

Untuk mendaftar ke Facebook, ikuti tautan berikut:
http://www.facebook.com/p.php?i=100000646675156&k=Z6E3Y5Q6SXYB5GBJPB63QTTWTSCEZ5ZNUWFREKPDUZ&r

Already have an account? Add this email address to your account here.
Lihat siapa lagi yang telah mengundang Anda ke Facebook:
Afandi Kusuma
Afandi Kusuma
2851 teman
35 foto
kamu diundang untuk bergabung di Facebook oleh Ayuna Fajrin. Jika Anda tidak ingin lagi menerima email sejenis dari Facebook, silakan klik di sini untuk berhenti.
Kantor Facebook beralamat di 1601 S. California Ave., Palo Alto, CA 94304.

Hikmah Pembangunan Masa Lalu untuk Masa Kini

Emil Salim

Hari Kamis (14/1), Penerbit Buku Kompas meluncurkan buku Pengalaman Pembangunan Indonesia- Kumpulan Tulisan dan Uraian Widjojo Nitisastro dari tahun 1963 hingga 1996 menggambarkan pengalamannya dalam membangun Indonesia di masa Orde Baru. Jika masa ini sudah lewat, timbul pertanyaan masih relevankah isi buku ini bagi generasi masa kini dan nanti? Hikmah apakah yang bisa ditarik dari buku ini?

 

Buku ini ditulis oleh seorang profesor ekonomi sehingga segera tampak betapa inner logic ekonomi memengaruhi cara pandang dan berpikir sang penulis. Ilmu ekonomi bertumpu pada logika bahwa harga keseimbangan terbentuk bila penawaran bertemu dengan permintaan. Sifat pasar bisa berbeda, serbaliberal, monopoli, berencana atau lain- lain. Namun, akhirnya yang dituju adalah harga keseimbangan antara penawaran dan permintaan.

Ketika pada tahun 1972 meledak krisis pangan yang parah dan harga melonjak tinggi, terdapat laporan produksi beras yang cukup tinggi dari pejabat pertanian daerah, sedangkan Biro Pusat Statistik mengungkapkan produksi beras lebih rendah daripada tahun-tahun sebelumnya. Selaku Ketua Bappenas, Widjojo Nitisastro menginstruksikan agar yang dijadikan patokan adalah "harga beras pada musim panen" dan bukan perkiraan jumlah produksi yang simpang siur. Inner logic ekonomi berkata, pada musim panen pasokan beras naik sehingga harga beras mestinya tidak naik. Bila ada kenaikan, produksi pada musim panen lebih rendah dengan sebelumnya.

Asas efisiensi

 Pelajaran kedua yang bisa ditarik adalah penerapan asas efisiensi yang secara sederhana terungkap dalam lima pertanyaan Menteri Sekretaris Negara Sudharmono ketika berhadapan dengan tuntutan departemen mengajukan anggaran proyek, yakni: pertama "apakah perlu membangun proyek itu?" Kalau ini dijawab positif, pertanyaan berikut adalah "apakah perlu sebesar itu ukuran proyeknya?" Kemudian, menyusul pertanyaan "apa perlu sekarang, apa betul urgen mendesak?" Lalu "apakah biaya bisa diturunkan?" Akhirnya masih menyusul permintaan untuk mengajukan studi kelayakan untuk dikaji oleh para ahli.

Tersimpul dalam pertanyaan sederhana Sudharmono ini prinsip efisiensi kegunaan, pertimbangan ukuran besar, faktor urgensi waktu dan faktor biaya. Untuk dicek dengan studi kelayakan proyek. Setelah terjawab ini semua barulah proyek ini bisa lolos.

 Hikmah ketiga, diterapkannya dalil "berpegang teguh pada sasaran yang ditetapkan" dalam bahasa manajemen maintenance of the objectives. Ketika pada Januari 1986 Presiden Soeharto menyatakan tidak akan mendevaluasi rupiah, maka komitmen pemerintah ini harus dilaksanakan. Akan tetapi, harga minyak bumi kemudian jatuh sehingga penerimaan devisa berkurang dengan tajam dan nilai tukar rupiah merosot turun. Dan orang menukar rupiah yang overvalued dengan mata uang asing.

Tujuan kebijakan pembangunan adalah mengusahakan stabilisasi ekonomi dan ini memerlukan nilai tukar yang stabil pada tingkat keseimbangan yang bisa dipikul anggaran. Jika nilai tukar rupiah overvalued, maka devisa akan dikuras sehingga membahayakan stabilitas rupiah. Maka, demi maintenance of the objective mencapai ekonomi stabil, Presiden "menarik janjinya" dan mendevaluasi rupiah pada tahun 1986.

Kerja "all-out"

 

Pelajaran keempat adalah semangat kerja habis-habisan, all out to get things done. Untuk mencapai sasaran swasembada pangan, segala keperluan petani harus sampai ke tangan di lapangan. Bibit unggul PB-5, pupuk, dan saluran irigasi harus tersedia pada waktunya. Dan peranan Bulog membeli padi pada waktu harga turun dan menjual pada waktu harga naik. Jalan kabupaten, jalan provinsi, dan jalan nasional direhabilitasi untuk kelancaran arus pasokan input ke petani dan pembelian output dari petani. Untuk potong lajur birokrasi, jalan pintas diambil untuk menurunkan anggaran langsung dari pusat ke lapangan dengan pola "Proyek Inpres, Instruksi Presiden". Irigasi sekunder dan primer perlu semen, maka pabrik semen dibangun. Pupuk dibutuhkan banyak, maka pabrik pupuk dibangun. Tak banyak seminar di masa itu, pertemuan lebih banyak dengan petani di tingkat desa. All out to get things done adalah suasana yang hidup mengejar sasaran swasembada pangan yang dicapai pada tahun 1984.

 Pelajaran kelima adalah posisi seorang intelektual yang dibedakan dengan "pekerja intelek" (intellectual worker). Seorang "pekerja intelek" adalah seorang "tukang intelek" yang "menjual otaknya" kepada pembeli tanpa memedulikan "untuk apa hasil otaknya dipakai". Seorang "pekerja intelek" semata-mata mengembangkan ilmu dan menghasilkan karya hasil otaknya dengan imbalan, titik. Sesudah itu, tanggung jawab pembeli hasil otak.

Berbeda halnya dengan seorang "intelektual" yang pada asasnya adalah seorang "pengkritik sosial" (social critic) dan bekerja mengidentifikasi, menganalisis, dan memecahkan masalah untuk mencapai masyarakat yang lebih baik, lebih berperikemanusiaan, dan lebih rasional. Dengan demikian, intelektual itu tumbuh menjadi hati nurani masyarakat, the conscience of the society, yang mendambakan perubahan ke arah perbaikan untuk kemaslahatan masyarakat.

 Demikianlah lima hikmah yang bisa dipetik dari buku yang ditulis oleh Widjojo Nitisastro yang telah mencurahkan bagian besar hidupnya bagi pembangunan Indonesia.

 

Semangat zaman telah berubah kini. Tantangan pembangunan masa kini dan nanti telah berbeda. Sungguhpun diperlukan pola pembangunan yang berlainan agar lebih sesuai dengan tuntutan masa, tetapi kelima-lima pokok hikmah di atas tetap bisa digunakan untuk mengisi tuntutan masa baru dan mengisyaratkan tetap perlunya kerja pembangunan dengan inner logic ekonomi, prinsip efisiensi, maintenance of the objectives, all out to get things done, dan sikap jiwa seorang intelektual pembawa hati nurani masyarakat.Emil Salim Ekonom Senior

Pintu Surga

Terjemah Daqoiqul Akhbar

*** 

Ibnu Abbas ra. berkata: Surga mempunyai 8 pintu yang terbuat dari emas, yang dihiasi dengan jauhar (sejenis mutiara) dan pada pintu yang pertama tertulis kalimat LAA ILAAHA ILLALLAAH MUHAMMADUR RASUULULLAH, yaitu pintu bagi para Nabi dan Rasul, syuhada' dan juga pintunya orang-orang yang dermawan. Pintu yang kedua yaitu pintu bagi orang-orang yang mendirikan shalat, orang yang menyempurnakan wudhunya dan orang yang menyempurnakan rukun-rukun shalatnya. Pintu yang ketiga yaitu pintu bagi orang-orang yang memberikan zakatnya dengan senang hati dan ikhlas.Pintu yang keempat yaitu pintu bagi orang-orang yang memerintahkan kepada kebajikan dan mencegah terhadap perbuatan munkar. Pintu yang kelima yaitu pintu bagi orang-orang yang dapat memelihara syahwatnya dan mencegah dari nafsu yang buruk. Pintu yang keenam yaitu pintu bagi orang-orang yang melaksanakan haji dan umrah. Pintu yang ketujuh yaitu pintu bagi orang-orang yang berjihad (dijalan Allah). Dan pintu yang kedelapan yaitu pintu bagi orang-orang yang bertaqwa, yaitu orang yang memejamkan matanya dari perbuatan dan sesuatu yang haram, orang-orang yang melakukan kebaikan, diantaranya: berbuat baik kepada orang tua, mempererat tali persaudaraan (silaturrahim) dan lain sebagainya.

Surga ada 8 (delapan)macam:

  1. Darul Jalal yaitu surga yang terbuat dari mutiara putih.
  2. Darus Salam yaitu surga yang terbuat dari yaqut merah.
  3. Jannatul Ma'wa yaitu surga yang terbuat dari zabarjud hijau.
  4. Jannatul Khuldi yaitu surga yang terbuat dari marjan yang berwarna merah dan kuning.
  5. Jannatun Na'im yaitu surga yang terbuat dari perak putih.
  6. Jannatul Firdaus yaitu surga yang terbuat dari emas merah.
  7. Jannatul 'Adn yaitu surga yang terbuat dari intan putih.
  8. Darul Qarar yaitu surga yang terbuat dari emas merah.

 

Darul Qarar adalah surga yang paling utama dibandingkan dengan surga yang lain. Surga ini mempunyai dua pintu dan dua daun pintu, satu daun pintu terbuat dari emas, dan yang satunya terbuat dari perak. Jarak setiap pintu adalah sebagaimana jarak antara bumi dan langit. Adapun bangunan yang ada didalamnya terbuat dari bata emas dan bata perak, tanahnya dari misik, debunya dari anbar, rumputnya dari za'faran, istana-istananya terbuat dari mutiara, punggungnya dari yaqut dan pintunya dari jauhar.

Didalam surga ini terdapat sungai yang namanya sungai Rahmat yaitu sungai yang mengalir keseluruh surga, kerikil-kerikilnya dari mutiara yang sangat putih, lebih putih dari embun dan lebih manis dari madu.

Didalam surga terdapat sungai yang bernama Sungai Kautsar yaitu sungai Nabi kita Muhammad Saw. pohon-poinnya terbuat dari intan dan yaqut. Didalam surga juga terdapat sungai Kafur, sungai Tasnim, sungai Salsabil, sungai Rahiqul Makhtum dan dibelakang sungai-sungai ini terdapat sungai-sungai lain yang tidak terhitung jumlahnya.

Diriwayat Nabi Saw. beliau bersabda: "Pada malam aku dijalankan (isra') ke langit, telah diperlihatkan kepadaku seluruh surga, maka aku melihat empat sungai, yang pertama sungai dari air yang tidak berubah warnanya, kedua sungai dari susu yang tidak pernah berubah rasanya, dan ketiga sungai dari arak dan yang keempat sungai dari madu yang sangat bening." Sebagaimana firman Allah Swt.:

"Yang didalamnya terdapat sungai-sungai dari air yang tidak berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamer yang lezat rasanya bagi orang yang meminumnya dan sungai-sungai dari madu yang bersih dan jernih." (Qs. muhammad: 15).

Maka aku tanyakan keada Malaikat Jibril as.: "Darimanakah datangnya sungai-sungai ini dan kemana mengalirnya? " Maka Malaikat Jibril as. menjawab: "Sungai itu mengalir ke telaga kautsar dan aku tidak tau dari mana asalnya, maka tanyakanlah kepada Allah agar Dia memberi tau dan memperlihatkan kepadamu." Maka berdoalah Nabi Muhammad kepada Allah Swt. Kemudian datanglah seorang malaikat kepada beliau dan memberi salam, seraya berkata:"Wahai Muhammad, pejamkanlah kedua matamu" Maka aku pejamkan mataku, lalu ia berkata:"Bukalah kedua matamu" maka aku buka kedua mataku, tiba-tiba aku berada dibawah pohon dan aku melihat kubah dari intan putih yang memiliki pintu-pintu dari yaqut hijau dan kunci-kuncinya dari emas merah. Andaikata semua makhluk yang ada didunia baik jin atau manusia berhenti diatas kubah itu, sungguh mereka hanya seperti burung yang hinggap diatas gunung. Maka aku melihat empat sungai itu mengalir dari kubah itu. Ketika aku ingin kembali malaikat tadi berkata kepadaku: "Kenapa engkau tidak masuk kedalam kubah itu?" aku menjawab:"Bagaimana aku bisa memasukinya, sedangkan pintu-pintunya tertutup." Dia berkata:"Bukalah dia" Aku bertanya:"Bagaimana aku harus membukanya?" Lalu dia berkata:"Kuncinya berada ditanganmu" Aku berkata:"Apa kuncinya?" Dia menjawab:"Yaitu lafazh BISMILLAAHIR RAHMAANIR RAHIM" maka terbukalah pintu itu lalu aku masuk kedalamnya. Maka aku melihat sungai-sungai itu mengalir dari empat tiang kubah. Ketika aku hendak keluar, maka malaikat itu berkata kepadaku:"Apakah engkau telah melihat dan mengetahuinya? " Aku menjawab:"Ya" Malaikat itu berkata kepadaku: "Lihatlah sekali lagi." Ketika aku melihatnya, maka tertulis diatas empat kubah tersebut lafazh BISMILLAAHIR RAHMAANIR RAHIM Aku melihat sungai air itu keluar dari huruf Mim-nya lafazh BISMI, sungai susu keluar dari huruf Ha'-nya lafazh Allah, sungai arak (khamer) keluar dari Mim-nya lafazh RAHMAN, dan sungai madu keluar dari Mim-nya lafazh RAHIM. Maka aku baru mengerti bahwa asalnya sungai-sungai tersebut adalah dari lafazh Basmalah. Kemudian Allah Swt. berfirman: "Wahai Muhammad, barang siapa yang mengingat-Ku dengan nama ini dari golongan umatmu dengan hati tulus (ikhlas) lafazh BISMILLAAHIR RAHMAANIR RAHIIM maka aku beri dia minum dari empat sungai ini."

Kemudian Allah memberi minum kepada ahli-ahli surga itu dengan air surga pada hari sabtu, memberi minum dengan madu surga pada hari ahad, memberi minum dengan susu surga pada hari senin, dan memberi minum dengan arak pada hari selasa. Disaat mereka minum, mabuklah mereka lalu terbanglah ahli surga itu selama seribu tahun hingga mereka berhenti pada suatu gunung yang besar yang terbuat dari kasturi yang harum semerbak baunya dan sungai Salsabil mengalir dibawahnya. Maka minumlah mereka pada sungai itu tepat pada hari rabu.

Kemudian terbanglah mereka selama seribu tahun hingga berhenti pada suatu istana yang indah, didalamnya terdapat ranjang-ranjang yang tinggi, dan beberapa gelas yang sudah disediakan sebagaimana yang sudah diterangkan dalam Al-Quran. Maka duduklah setiap orang dari mereka diatas ranjang, lalu datanglah pada mereka minuman Zanzabil kemudian mereka meminumnya tepat pada hari kamis.

Setelah itu mereka dihujani oleh awan yang putih selama seribu tahun, sehingga mereka sampai ketempat duduknya orang yang benar, pada hari itu tepat pada hari jumat, mereka duduk diatas hidangan yang kekal abadi dan turunlah pada mereka minuman Rahiqul Makhtum, yang ditutupi dengan misik. Kemudian mereka membuka tutup tersebut dan mereka meminumnya.

Nabi Saw. bersabda: "Mereka itulah orang-orang yang melakukan kebaikan dan menjauhi perbuatan maksiat"

 

FASAL: Pepohonan Di Surga

Ka'ab ra.: Aku bertanya kepada Rasulullah Saw. tentang pohon-pohonan di surga. Maka beliau menjawab:"Tidak pernah kering dahan-dahannya dan daun-daunnya tidak pernah berguguran dan tidak rusak buahnya. Sesungguhnya pohon yang paling besar di surga adalah pohon Thuba, yang akarnya terbuat dari intan, batangnya dari yaqut, dahannya dari zabarjud dan daun-daunnya dari sutra yang halus. Pohon ini memiliki 70.000 cabang, setiap cabang itu menyentuh Arasy dan lebih rendah-rendahnya cabang itu berada di langit dunia."

Tidak ada didalam surga sebuah kamar, tidak ada sebuah kubah dan tidak ada bilik kecuali didalamnya terdapat cabang pohon itu, yang bisa mengayomi diatas surga. Pada pohon itu mengeluarkan buah-buahan menurut apa yang dikehendaki oleh hati. Bandingan dari pohon itu di dunia adalah matahari, asalnya matahari berada di langit tetapi sinarnya sampai kesegala tempat.

Ali ra. berkata: "Aku menyatakan dari beberapa hadits, sesungguhnya pohon-pohon di surga itu berasal dari perak, sedangkan daun-daunnya sebagian dari perak dan sebagian (yang lain) dari emas. Kalau sekiranya batang pohon itu dari perak, maka akar-akarnya dari emas. Pohon-pohon didunia akarnya di bumi dan cabang-cabangnya berada di udara, karena sesungguhnya dunia itu tempat yang fana (rusak). Akan tetapi pohon-pohonan yang terdapat di surga tidaklah demikian halnya, akarnya di udara dan cabang-cabangnya di bumi. Sebagaimana firman Allah Swt.:

"Buah-buahnya dekat. Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu." (Qs. Al-Haqqah: 23-24).

Dan debu-debu di surga itu dari misik, anbar dan kafur, dan sungai-sungainya terdiri dari susu, madu, arak dan air yang sangat jernih. Apabila angin bertiup menerpa dedaunan, maka bersentuhlah antara daun yang satu dengan daun yang lainnya hingga menimbulkan suara yang sangat indah (merdu), dan suara seindah itu belum pernah didengar.

Dengan sanad dari Ali ra. Sesungguhnya ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah Saw. bersabda:"Sesungguhnya didalam surga terdapat suatu pohon , yang dibagian atasnya keluar perhiasan dan pada bagian bawahnya keluar kuda yang memiliki sayap yang diberi pelana, yang dikendalikan, yang ditaburi dengan intan dan yaqut. Kuda tersebut tidak pernah mengeluarkan kotoran dan tidak pernah buang air kecil. Adapun yang menaiki kuda itu adalah para wali Allah Swt. dan kuda ini akan membawa terbang para wali Allah tersebut ke surga. Lalu berkatalah orang-orang yang berada dibawah mereka:"Wahai Tuhanku, lantaran apa hamba-hamba- Mu itu mencapai kemulian semcam itu?" Maka Allah Swt. berfirman kepada mereka: "Mereka itulah orang-orang yang mengerjakan shalat ketika kalian semua masih tidur, mereka melakukan puasa sedangkan kalian tidak, mereka berjihad membela agama Allah sedangkan kalian semua duduk disisi istri kalian, dan mereka bersedekah dengan harta mereka dijalan Allah, sedangkan kalian semua bakhil (kikir)."

Dari Abu Hurairah ra. beliau berkata: Sesungguhnya didalam surga itu terdapat sebuah pohon, orang yang menaiki bisa berjalan dibawah naungannya selama 100 tahun dan naungan itu tidak akan putus. Sebagaimana firman Allah Swt.:

"Dan naungan yang terbentang luas, dan air yang tercurah, dan buah-buahan yang banyak. Yang buah-buahnya tidak berhenti dan tidak terlarang mengambilnya." (Qs. Al-Waqi'ah: 30-33).

Diibaratkan waktu didunia adalah waktu sebelum matahari terbit dan sudah terbenamnya matahari, sampai hilangnya mega dan gelap malam yang menutupi di dunia. Maka sesungguhnya waktu itu adalah naungan yang terbentang luas. Sebagaimana firman Allah Swt.:

"Apakah kamu tidak memperhatikan (penciptaan) Tuhanmu, bagaimana Dia memanjangkan bayang-bayang. " (Qs. Al-Furqan: 45).

Maksudnya adalah waktu sebelum terbitnya matahari dan sesudah terbenamnya, sampai masuk pada kegelapan malam.

Diriwayatkan dari Nabi Saw. sesungguhnya beliau bersabda: "Apakah aku tidak pernah menceritakan kepadamu tentang waktu(saat), yaitu waktu yang serupa dengan waktu yang ada di surga. Dia adalah waktu dimana sebelum matahari terbit, bayang-bayangnya itu memanjang, rahmatnya saat itu merata dan berkahnya saat itu banyak."

~ oleh erva kurniawan di/pada 1 Februari 2009.

Halal - Pengertian

Halal berasal dari bahasa Arab Halaal. Lawan katanya adalah haram. Dalam ajaran Islam, kata halal berarti ''dibolehkan'' atau diizinkan. Biasanya, kata halal biasa digunakan untuk menyebut makanan dan minuman yang boleh dikonsumsi menurut syar'i. Saat ini, kesadaran untuk umat Islam di dunia untuk mengonsumsi produk-produk berlabel halal terbilang sangat tinggi.

Berdasarkan data pada Wikipedia, hampir sekitar 70 persen Muslim di dunia sudah mulai mengonsumsi produk makanan dan minuman yang berstandar halal. Industri produk berlabel halal pun terus meningkat. Total perdagangan produk halal di pasar global per tahunnya sudah mencapai 580 miliar dolar AS.

Sejatinya, kata halal tak hanya digunakan untuk menyebut makanan dan minuman yang boleh dikonsumsi umat Islam. Dalam konteks yang lebih luas, istilah halal merujuk kepada segala sesuatu yang diizinkan atau diperbolehkan menurut hukum Islam meliputi aktivitas, tingkah laku, cara berpakaian, cara mendapatkan rezeki dan sebagainya.

Dalam Alquran, kata halal  disebut lebih dari 30 kali. Berikut ini adalah ayat-ayat tentang halal yang tercantum dalam kitab suci Alquran:

''Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. (QS: al-Baqarah:168).
 
''Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka...'' (QS: al-Baqarah: 187)
 
''... padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba...'' (QS: al-Baqarah: 275)

''Dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu, dan aku datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mu'jizat) daripada Tuhanmu...'' (QS: Ali Imran:50).

''Semua makanan adalah halal bagi Bani Israil, melainkan makanan yang diharamkan oleh Israil (Ya'qub) untuk dirinya sendiri sebelum Taurat diturunkan ... '' (QS:Ali Imran:93).
 
''Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa... '' (QS:an-Nisaa: 19).  ''Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, kami haramkan atas (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah.'' (QS: an-Nisaa:160).

''Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu. Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya.'' (QS: al-Maaidah:1).

''Mereka menanyakan kepadamu: "Apakah yang dihalalkan bagi mereka?". Katakanlah: "Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatih nya untuk berburu; kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu.. '' (QS: al-Maaidah:4)

Melakukan Pekerjaan Secara Tim


Tim adalah sekumpulan orang berakal yang terdiri atas dua, lima, hingga dua puluh orang dan memenuhi syarat terpenuhinya kesepahaman hingga membentuk sinergi antarpelbagai aktivitas yang dilakukan anggotanya. Jadi perilaku anggota tim harus mencerminkan keserasian yang menunjukkan bahwa setiap anggota bertindak dalam bingkai dan sesuai dengan sekumpulan prinsip atau tujuan bersama.
Menurut Zuhair Al Kaid, tim adalah sebuah gambaran dari pelbagai bentuk kolektivitas yang dibentuk untuk mengikuti dorongan semangat untuk memiliki keterikatan pada kelompok tertentu. Demikian pula dorongan untuk pengakuan sosial serta membawa misi keterikatan secara materi dan maknawi
Tidak ada orang dalam tim yang bisa persis dengan anda. Anggota tim tidak berpikir dengan cara yang sama dan memegang nilai yang sama dengan anda. Memang tim yang semua anggotanya sama persis akan bebas dari konflik, tetapi akan kekurangan keragaman yang bisa melahirkan gagasan baru. Meskipun demikian, tim yang terdiri dari individu-individu berbeda memiliki banyak tantangan. Jika tim anda tidak menunjukkan rasa saling percaya, saling menghargai dan keterbukaan, tim tersebut akan terpecah atau terjerat dalam ketidakmanfaatan.
Tim adalah media agar setiap individu dapat bekerja secara kolektif dengan penuh sinergi sebagai satu kesatuan yang senyawa. Pekerjaan atau aktivitas yang dilakukan dalam sebuah tim memiliki nilai lebih karena tersedianya pelbahai jalinan relasi manusia secara langsung tanpa adanya rintangan-rintangan formal antara individu. Kondisi ini tentunya berdampak positif, yaitu dapat memompa semangat anggota tim untuk bekerja secara produktif.
Dalam tataran manusiawi, bermain sendiri sangat membosankan dan lebih cenderung mengantarkan pada kegagalan. Tidak mungkin manusia dapat hidup dengan menyendiri semata, tim kerja merupakan sumber penting bagi proses pemutakhiran pengetahuan. Di sana individu-individu berbeda bersatu dalam satu ikatan dengan cara yang berbeda-beda pula yang pada akhirnya, karena interaksi yang tidak dapat dihindarkan, terciptalah sifat-sifat bersama yang membentuk kepribadian setiap individu dalam tim. Sebuah potensi dapat diinvestasikan untuk menghasilkan laba semaksimal mungkin melalui terciptanya suasana kondusif bagi terciptanya sebuah proses yang interaktif yang memproduksipengetahuan baru atau mengembangkan pengetahuan yang telah ada............

......Selengkapnya---Melakukan Pekerjaan Secara Tim

Warisan Gus Dur

Jaya Suprana

Gus Dur telah tiada. Terlalu banyak kenangan dan pelajaran yang saya peroleh dari sahabat dan mahaguru yang sangat saya hormati, kagumi, dan cintai itu. Dari Gus Dur, saya mewarisi wawasan kearifan mengenai makna kenegaraan, keagamaan, dan kemanusiaan dalam hakikat yang murni dan sejati.

Saya terkenang bagaimana ketika menempuh perawatan hemodialisis akibat telah mencapai tahap gagal ginjal terminal, Gus Dur tampak selalu segar bugar, ceria, dan tetap bersemangat berkisah dirinya sempat resmi dituntut sebuah ormas untuk diadili dengan tuduhan menghina agama Islam lewat pernyataan bahwa Al Quran adalah kitab suci pornografis. Ketika saya menganggap tuduhan itu tidak benar, Gus Dur malah dalam gaya biarnisme nakal membantah: "Biar saja, biar rame!"

Socrates

Gus Dur selalu mengingatkan saya kepada filsuf Yunani—tepatnya Athena— tersohor, Socrates, yang—menurut Plato— gemar melontarkan komentar-komentar humoristis yang sering keliru ditafsirkan sejumlah pihak tidak mau dan/atau tidak mampu memahami kandungan makna yang sebenarnya amat luhur.

Kini telah disepakati bahwa Socrates salah seorang filsuf terbesar yang pernah hidup di Planet Bumi ini dengan pengaruh signifikan terhadap pemikiran peradaban dan kebudayaan Barat. Namun, pada masa hidupnya menjelang akhir abad III sebelum Masehi, Socrates dicurigai, dicemooh, dikecam, dan dihina sebagai insan eksentrik suka bicara ngawur. Bahkan, akibat lontaran komentar yang keliru ditafsirkan, Socrates dituduh menghina agama dan lembaga penguasa hingga akhirnya dijatuhi hukuman mati oleh dewan juri pengadilan kota Athena pada tahun 399 sebelum Masehi.

Sementara itu, di Indonesia, pada tahun 2001 setelah Masehi, akibat berbagai sikap, perilaku, dan komentar yang keliru ditafsirkan, Gus Dur memang tidak dihukum mati, tetapi dipaksa lengser dari jabatan Presiden oleh MPR dan DPR yang pada masa itu masih memiliki kekuasaan untuk dengan sangat mudah melengserkan presiden.

Semasa hidup, Socrates dibenci kaum penguasa kota Athena sebab terlalu lantang dan terlalu terbuka melempar kritik terhadap sikap dan perilaku demokrasi semu pemerintah Athena. Demikian pula pada masa rezim Orde Baru, Gus Dur juga dibenci mereka yang sedang berkuasa akibat ketua ormas Islam terbesar di dunia ini berani mengkritik kediktatoran penguasa Republik Indonesia. Begitu benci rezim Orba terhadap Gus Dur, sampai konon muncul instruksi rahasia untuk—sama dengan Socrates—membunuh Gus Dur, tetapi—beda dari Socrates—sebelum niat itu terlaksana, rezim Orba telanjur lengser.

Akibat aneka ragam komentar kontroversial, Socrates dibenci dewan perwakilan warga Athena. Sama halnya dengan Gus Dur jahil menyamakan para anggota DPR dengan murid TK sebagai penyulut sumbu kebencian DPR terhadap Presiden!

Plato

Di dalam apologi tersirat kekaguman Plato terhadap Socrates sebagai tokoh yang berani menyatakan yang benar sebagai benar, yang keliru sebagai keliru, dan berani mengambil langkah-langkah kontroversial demi mempersembahkan yang terbaik bagi rakyat Athena. Sama halnya dengan para tokoh cendekiawan dan budayawan nasional dan internasional yang kagum terhadap sosok Gus Dur yang selalu gigih maju tak gentar menerjang kemelut deru campur debu bepercik keringat, air mata, dan darah demi menegakkan kebenaran di bumi Indonesia.

Pada masa Orba, Gus Dur paling berani secara terbuka memprotes kezaliman pemerintah. Hanya Gus Dur yang berani secara terbuka membela Arswendo Atmowiloto ketika menjadi korban ketidakadilan. Hanya Gus Dur yang berani membela kaum minoritas tertindas di Indonesia masa Orba kemudian setelah menjadi Presiden nyata memperjuangkan hak-hak kaum minoritas!

Hanya Gus Dur yang sadar bahwa urusan sosial dan pers sebenarnya bukan urusan pemerintah tetapi masyarakat sendiri, maka membubarkan Departemen Sosial dan Departemen Penerangan. Namun— sama dengan nasib Socrates—perjuangan Gus Dur membela kemanusiaan dan menegakkan kebenaran di persada Nusantara sering tidak atau sulit dipahami masyarakat semasa hingga sering keliru ditafsirkan sebagai ulah negatif bahkan destruktif. Cuap-cuap Socrates menjengkelkan kaum penguasa kota Athena, sementara ceplas-ceplos Gus Dur ketika menjadi Presiden sangat ditakuti pimpinan Bank Indonesia sebab dianggap rawan mengguncang stabilitas moneter dan ekonomi nasional!

Sama dengan Socrates, Gus Dur semasa menjadi Presiden dituduh eksentrik, ngawur, bahkan membahayakan negara dan bangsa hingga akhirnya—meski tidak dibunuh seperti Socrates—dilengserkan dari jabatan kepala negara! Gus Dur layak masuk MURI sebagai orang yang paling sering dikelirutafsirkan, terbukti namanya saja sering disebut "Pak Gus Dur" akibat keliru tafsir bahwa "Gus Dur" sebuah nama, padahal istilah "Gus" sebenarnya sebutan dialek Jawa Timur berbobot sudah sama terhormat dengan "Pak".

Warisan pesan

Dalam salah satu perjumpaan terakhir dengan sahabat dan mahaguru yang sangat saya hormati, kagumi, dan cintai, saya sempat bertanya mengenai apa sebenarnya yang keliru pada bangsa dan negara Indonesia pada masa kini. Gus Dur menghela napas sejenak lalu berkisah sebuah hadis Al Sukuni meriwayatkan dari Abu Abdillah Al Shadiq, "Ketika Nabi Muhammad SAW menyambut pasukan sariyyah kembali setelah memenangkan peperangan, Beliau bersabda: 'Selamat datang wahai orang-orang yang telah melaksanakan jihad kecil tetapi masih harus melaksanakan jihad akbar!' Ketika orang-orang terheran-heran lalu bertanya tentang makna sabda itu, Rasul SAW menjawab: 'Jihad kecil adalah perjuangan menaklukkan musuh. Jihad akbar adalah jihad Al-Nafs, perjuangan menaklukkan diri sendiri!"

Terima kasih dan selamat jalan, Gus Dur!

Selamat berjuang, bangsa Indonesia!

Jaya Suprana Sahabat dan Murid Gus Dur

Produk Cantik Ok Rek

Perhiasan dari Martapura