Seluruh Arsip

: Korupsi, Musuh Bersama Umat Islam

Oleh Damanhuri Zuhri

Ajaran agama selalu harta adalah ujian dan hidup tak abadi. 


Genderang perang terhadap praktik korupsi yang ditabuh pemerintah dan rakyat Indonesia tampaknya masih belum membuahkan hasil.  Indonesia  negara Muslim terbesar di dunia – masih saja dinobatkan sebagai negara terkorup nomor wahid di kawasan Asia Pasifik. 

Baru-baru ini, sebuah lembaga survei yang berbasis di Hongkong,  Political & Economic Risk Consultancy (PERC), menobatkan Indonesia sebagai negara terkoru dari 16 negara tujuan investasi di kawasan Asia Pasifik. Indeks korupsi yang diberikan Indonesia mencapai 9,07, nyaris mendekati angka 10 sebagai poin negara terkorup. 

Kondisi ini memang sungguh memalukan. Betapa tidak?  Skor korupsi yang ditoreh bangsa ini terus meningkat: itu artinya korupsi semakin merajalela. Jika pada 2008, PERC memberi skor korupsi Indonesia sekitar 7,98, maka pada 2009 naik menjadi 8,32. Tahun ini, skor korupsi negari ini terus memburuk mencapai 9,07.

Perang terhadap korupsi yang digembar-gemborkan, seakan tak mampu membuat takut para pejabat, aparat dan masyarakat. Akhir-akhir ini, media massa di Tanah Air dipenuhi dengan berita-berita skandal korupsi, suap dan manipulasi. Bahkan uang pajak yang seharusnya digunakan untuk membangun bangsa ini pun dikabarkan telah ditilep oleh oknum-oknum di kantor pajak.
 
Penasihat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Abdullah Hehamahua, mengungkapkan, Indonesia akan bebas korupsi dalam waktu 20 tahun, jika semua instansi pemerintah menerapkan cara KPK. Menurutnya,  yang harus dibenahi dalam tubuh pemerintah adalah sistem  sumber daya manusia (SD), sistem pengelolaan aset negara serta sistem-sistem lainnya.

''Saat ini, dari 3,7 juta pegawai negeri sipil (PNS), sebanyak 65 persen terdiri dari pegawai administasi dan 35 persen pegawai fungsional,''  tutur Abdullah. Akibatnya, terjadi inefiseinsi. Idealnya, kata dia, pegawai fungsional harus mencapai 70 persen dan administrasi cukup 30 persen saja. ''Akibatnya, kalau Anda datang ke kantor pemerintahan banyak staf yang bermain games, tidur-tiduran dan mengisi teka-teki silang.''

Abdullah mengungkapkan, masalah utama dari sumber daya manusia di Indonesia adalah integritas. Menurut dia, sistem rekruitmen PNS di Tanah Air kurang selektif.  Ia juga mengungkapkan, dalam menerapkan remunerasi, sebaiknya pemerintah menerapkan merit sistem. Artinya, kata dia, seorang pegawai pemerintah dinaikkan gajinya berdasarkan kinerja dan kompetensinya.

Sesungguhnya, praktik korupsi, suap dan manipulasi merupakan perbuatan yang sangat dilarang ajaran Islam.  Lalu mengapa korupsi masih tetap saja merajalela di negeri yang mayoritas berpenduduk Muslim ini? Menurut Abdullah, faktor  utama yang menyebabkan tingginya  korupsi di Tanah Air adalah kebanyakan umat tak memahami dan mengamalkan subtansi agama. Ia berharap para ulama, ustaz serta dai bisa menjadi contoh bagi umat dalam pemberantasan korupsi.

Ketua PP Muhammadiyah, Prof Yunahar Ilyas, menegaskan, agar umat terhindar dari perilaku korup, maka harus memahami ajaran Islam tentang harta. '' Yang sangat menentukan adalah cara pandangan seseorang tentang harta,'' tuturnya.  Menurut dia,  ajaran Islam memang memerintahkan umatnya untuk mencari harta.

Tujuannya, papar Yunahar, untuk memenuhi kebutuhan hidup, baik untuk sendiri maupun keluarganya. Selain itu, tutur dia, harta dicari sebagai alat beribadah, baik ibadah mahdhah maupun ibadah sosial. ''Dalam konteks ini , memang tidak ada istilah berhenti mencari harta, karena ibadah sosial terbuka luas seluas-luasnya.'' 

Jika hanya sekadar untuk memenuhi kebutuhan hidup, kata Yunahar, mencari harta itu ada batasnya. Menurut dia, Alquran sudah memberikan peringatan-peringatan bahwa harta adalah ujian ( fitnah ), sehingga seseorang harus berhati-hati dengan hartanya. ''Diberi harta banyak merupakan ujian juga. Begitu juga tidak diberi harta juga ujian,'' paparnya.

Ia menuturkan, harta berpotensi melalaikan orang dari ibadah dan dari mendekatkan diri kepada Allah SWT. Oleh sebab itu, dalam ajaran Islam,  tibalah peringatan-peringatan dengan pendekatan akhlak dan juga ada pendekatan hukum. Sehingga ditentukan bagaimana hukumnya kalau seseorang mengambil harta orang lain, mencuri, merampok termasuk korupsi.

Menurut dia,  agar tak lagi ada korupsi, maka harus ada dua pendekatan yang simultan. Pertama, pendekatan pembinaan kepribadian. Seketat apapun aturan, jika seseoarng tetap berniat untuk korupsi, maka korupsi tetap bisa terjadi.  

''Di sinilah pentingnya ajaran agama untuk mengingatkan orang bahwa hidup ini tidak abadi dan kita selalu diawasi oleh malaikat.'' tuturnya. Pendekatan itu  perlu didukung oleh sistem yang efektif, efisien, terbuka, dan  bisa dipertanggungjawabkan dalam segala hal.  Selain itu, hal yang penting lainnya untuk mencegah korupsi adalah penegakan hukum yang tegas dan tanpa pandang bulu. Sehingga, orang menjadi takut untuk korupsi.

Sementara itu,  Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Komaruddin Hidayat,  menegaskan, perlu ada tindakan radikal untuk memberantas korupsi. Selama ini, kata dia, peralihan dari Orde Baru ke Reformasi itu masih remang-remang, abu-abu dan tidak ada garis batas yang jelas.

''Sehingga kultur budaya dan pemain lama, itu masih leluasa untuk bergerak. Sementara zaman Orde Baru  kan , pemerintah, penguasa dan negara sangat dominan. Hampir-hampir tidak ada kontrol dari masyarakat,'' paparnya. Menurut dia, sudah saatnya diterapkan pembuktian terbalik untuk mengatasi korupsi yang makin merajalela. ''Jadi, pejabat-pejabat strategis harus siap diaudit dan membuktikan  bahwa harta yang dimilikinya bebas dari korupsi.'' Korupsi adalah musuh bersama umat Islam.

: Tujuh Kriteria Hamba Saleh

Oleh Muhammad Kosim MA

Setiap Muslim pasti menginginkan menjadi hamba yang saleh. Bahkan, sesudah kita berwudlu untuk menghadap dan berdialog dengan Allah (shalat), kita disunahkan berdoa kepada-Nya. Salah satu doa tersebut adalah 'dan jadikanlah aku termasuk kelompok hamba-Mu yang saleh". Jangankan sebagai manusia biasa, Nabi Ibrahim AS pun berdoa: "Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh." (QS Asy-Syu'ara [26]: 83).

Untuk menjadi hamba yang saleh, perlu diketahui kriteria hamba-hamba yang saleh tersebut. Dengan memahami kriteria tersebut, diharapkan kita berupaya untuk melakukannya sehingga di hadapan Allah kita termasuk dalam golongan hamba-hamba yang saleh.

Adapun kriteria hamba yang saleh, disebutkan oleh Allah dalam Alquran surah Ali Imran [3] ayat 113-114. Dalam ayat ini, disebutkan tujuh kriteria hamba yang saleh. Pertama, orang yang berlaku lurus (memiliki karakter istikamah). Yakni, teguh pendirian, konsisten, dan komitmen dalam meyakini dan melakukan kebenaran. 

Kedua, senantiasa membaca ayat-ayat Allah, baik yang qauliyah (naqliyah), maupun ayat-ayat kauniyah (aqliyah). Ketiga, mereka yang senantiasa sujud di tengah keheningan malam, dengan melaksanakan shalat malam. 

Keempat, beriman kepada Allah. Setiap perbuatan dan tingkah lakunya dilandasi dengan zikir (ingat) Allah.  Dengan demikian, zikir itu akan menjadi alat kontrol dan stabilitator baginya dari berbagai kemaksiatan dan dosa.

Kelima, beriman kepada hari akhir. Kehidupannya senantiasa beroritenasi akhirat dan jangka panjang. Ia mengisi waktunya dengan kegiatan positif yang bernilai ibadah.

Keenam, mengajak orang lain untuk berbuat baik dan menghindari kejahatan atau kemaksiatan. Ia harus menjadi teladan, sehingga orang lain bisa mengikutinya. Ketujuh, bersegera melakuan kegiatan positif. Hamba yang saleh tersebut senantiasa berlomba-lomba melakukan kebaikan yang dilandasi dengan keikhlasan karena untuk Allah SWT.

Tujuh karakter di atas merupakan karakter hamba yang saleh. Dari ayat ini pula dapat disimpulkan bahwa kesalehan tersebut mencakup dua hal, yaitu kesalehan ritual dan kesalehan sosial. Wallahu alam.


: Penerapan Konsep Polisi Masyarakat

Martua Raja Taripar Laut SH
(Mahasiswa PTIK) 

Ada sebuah konsep yang sangat membantu Polri dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas). Konsep tersebut adalah Polisi Masyarakat (Polmas). Konsep ini sebenarnya sudah lama dijalankan Polri, namun dalam pelaksanaannya di lapangan belum sepenuhnya optimal. Kurang optimalnya pelaksanaan Polmas, bukan berarti Polri kurang bersungguh-sungguh. 

Hambatannya justru muncul dari kurangnya dukungan dari masyarakat karena masih adanya anggapan negatif tentang Polri. Pada intinya, Polmas merupakan sebuah konsep kemitraan Polri dengan masyarakat yang bisa mempermudah proses identifikasi masalah, melakukan analisis, dan menetapkan tindakan apa yang harus diambil dalam rangka memelihara Kamtibmas. 

Konsep Polmas juga merupakan upaya untuk membangun kemitraan Polri dengan masyarakat atas dasar kepercayaan dan saling mendukung sehingga tercipta kebersamaan dalam rangka memelihara Kamtibmas. Lewat Polmas ini, Polri bisa membangun kepercayaan masyarakat terhadap tugas-tugas di lapangan. Lewat Polmas juga masyarakat bisa berperan aktif dalam memberikan usul, gagasan, atau ide dan tindakan atas sebuah masalah yang berhubungan dengan Kamtibmas.

Memasuki era globalisasi dengan masyarakat yang terus berkembang, konsep Polmas ini akan sangat membantu kinerja Polri. Keterlibatan masyarakat dalam konsep Polmas akan memudahkan tugas Polri, mengingat jumlah personel yang dimiliki saat ini tidak sebanding dengan populasi penduduk yang hampir mencapai 300 juta jiwa. 

Jumlah Polri juga kurang memadai dalam memantau seluruh wilayah Indonesia yang 'superluas'. Mustahil Polri akan mampu meng-cover semua gangguan Kamtibmas, tanpa bantuan masyarakat.

Menurut penulis, pemunculan konsep Polmas ini sudah tepat. Sebagai anggota Polri, penulis sangat merasakan, pendekatan yang sifatnya proaktif kepada masyarakat sangat membantu dalam proses penanganan sebuah masalah. Masyarakat akan menerima Polri dengan tangan terbuka dan siap memberikan bantuan atas masalah yang sedang ditangani, ketika dari awal sudah dilakukan pendekatan secara baik. 

Salah satu contoh adalah dalam mengatasi masalah kejahatan. Tanpa diminta pun, masyarakat akan bersemangat melakukan ronda malam dan menjaga wilayahnya dari gangguan keamanan. Semangat masyarakat itu muncul seiring dengan hadirnya Polri di tengah-tengah mereka. 

Keberadaan Pokdar Kamtibmas, Babinsa, Pamswakarsa, dan lain-lain ternyata cukup efektif dalam mendekatkan Polri ke masyarakat. Terlebih, dalam kondisi ekonomi yang belum stabil karena pengaruh krisis global, memicu munculnya kemiskinan baru. 
Kemiskinan merupakan mata rantai kejahatan sehingga dalam kondisi ekonomi
sulit, tindak kriminal di masyarakat cenderung meningkat. Untuk menekan kejahatan, Polri tidak bisa asal tangkap. Tindakan Polri yang gegabah dan cenderung memosisikan diri sebagai penguasa, akan menjauhkan mereka dari masyarakat.

Perlu diingat, dalam menjalankan tugas, Polri jangan hanya menjadikan masyarakat sebagai objek yang harus dikejar atau ditangkap karena terlibat masalah. Melalui konsep Polmas, Polri bisa meyakinkan masyarakat untuk menjadi subjek yang punya kewenangan untuk mengelola lingkungan sendiri sehingga aman dan tertib. 

Untuk menjadikan masyarakat sebagai subjek, Polri bisa bertindak sebagai supervisor yang mengarahkan bagaimana cara melakukan pengamanan teritorial atau lingkungan. Seiring dengan bergulirnya era reformasi, tugas Polri dalam masyarakat jangan hanya menampilkan diri sebagai alat hukum atau pelaksana undang-undang yang hanya mencari kesalahan masyarakat. Namun, Polri harus lebih menitikberatkan kepada upaya membangun kepercayaan masyarakat.

Pada tahapan selanjutnya, untuk memelihara Kamtibmas, Polri bisa melakukan pendekatan teritorial dengan memperhatikan adat istiadat dan norma-norma masyarakat. Untuk membangun sebuah kemitraan, Polri juga bisa melakukan kesepakatan-kesepakatan dengan masyarakat tanpa harus meninggalkan hukum nasional yang mengatur tentang hak asasi manusia (HAM) dan demokrasi yang bertanggung jawab.

Menurut penulis, penerapakan Polmas sudah sesuai dengan nilai-nilai dasar budaya dan adat-istiadat bangsa Indonesia, terutama yang terkandung dalam konsep sistem keamanan swakarsa. Polri tidak perlu memunculkan konsep baru dalam menjalin kemitraan dengan masyarakat. Supaya konsep Polmas ini tetap relevan diterapkan dalam era modern seperti sekarang ini, Polri harus membangun dan mengembangkan sistem serta networking yang bagus dengan konsep-konsep yang ada dalam kehidupan masyarakat. 

Hal lain yang sangat penting dilakukan Polri adalah menjaga kepercayaan masyarakat, yang di antaranya bisa dilakukan dengan meningkatkan pelayanan. Melalui moto 'kami siap melayani masyarakat', Polri harus bisa membangun komunikasi dua arah sehingga keberadaannya selalu dinanti dan dibutuhkan.

Penulis yakin, penerapan konsep Polmas akan semakin mendekatkan Polri ke hati masyarakat dan secara otomatis membantu meningkatkan pelayanan. Salah satu dampak positif konsep Polmas yang bisa dirasakan adalah penangaan teroris. Sikap masyarakat yang terbuka dan tidak pelit dalam memberikan keterangan mempermudah Polri membongkar jaringan teroris di Indonesia. 

Penggerebekan beberapa persembunyian teroris, seperti di Cawang dan Cikampek, bisa menjadi contoh keberhasilan penerapan konsep Polmas. Masyarakat dengan tangan terbuka menerima kehadiran Tim Antiteror Densus 88 dan membantu kerja Polri di lapangan untuk memerangi teroris.

Selain penanganan teroris, berjalannya konsep Polmas juga bisa dilihat dari penanganan demonstrasi. Pada zaman Orde Baru, pendekatan terhadap demonstrasi kebanyakan dengan cara kekerasan. Namun, melalui konsep Polmas, Polri selalu mengedepankan dialog dalam menangani demonstrasi. Bukti kemitraan yang dibangun Polri adalah mendampingi para pendemo dan menjaganya supaya tetap berjalan tertib dan sesuai dengan norma-norma hukum. 

Melalui konsep Polmas, masyarakat tidak perlu khawatir dengan kehadiran anggota Polri, baik dalam aksi demonstrasi maupun kehidupan sehari-hari. Tidak ada tujuan lain dari Polri dalam keterlibatannya dalam kehidupan masyarakat, selain hanya untuk mendekatkan diri dan menjadi mitra dalam melaksanakan tugasnya.

Sebagai salah satu contoh pilot project penerapan Polmas secara baik di mana hubungan antara kepolisian dan berbagai unsur, seperti Muspida, Muspiko, dan masyarakat terjalin baik dapat kita lihat di Kabupaten Bekasi. Dengan wilayah yang terkenal atas industrinya, Polres Bekasi Kabupaten dapat bahu-membahu bersama masyarakat dan unsur terkait dalam pengungkapan kasus, pengamanan aksi unjuk rasa, hingga penanganan bencana  seperti banjir yang terjadi akhir-akhir ini akibat luapan Kali Citarum.

: Gambaran Wajah Nabi Muhammad SAW

Gambar memang mewakili ribuan kata dan jutaan makna. Namun sebuah gambar musti bersandarkan model yang valid. Tidak ada niatan apapun melainkan cemooh rendahan dari para pembuat gambar para tokoh Nabi dan Rosul. Tidak ada unsur ilmiyah, apalagi validitas. Inikah yang diajarkan oleh keyakinan mereka tentang mengkritisi Islam atau mengkritisi Nabi ummatnya, tidakkah mereka telah diajarkan bertanya, berdiskusi dan berdebat ilmiyah oleh sekolah mereka?

Gambar memang mewakili ribuan kata dan jutaan makna, namun jika tidak ada unsur yang benar dan beradab buat apa?

Visualisasi dengan kartun, lukisan, animasi dan sebagainya selain membikin kerepotan pembuatnya  akan dampak tidak diinginkan dari kemarahan para penganut dan ummatnya, juga akan mempersempit imajinasi dan kekayaan hak berkhayal. Hanya bahasa, tentu saja bersumber dari validitas keilmiyahan yang bisa dipertanggung jawabkanlah sesungguhnya yang mampu memberikan kebebasan bagi kita untuk berimajinasi seperti apa fisik baginda Nabi 'Alaihissholaatu wa sallaam.

Berikut apa yang dituturkan oleh Ummu Ma'bad Al Khuza'iyah di hadapan suaminya, saat beliau SAW lewat di kemahnya dalam perjalanan hijrah ke Madinah.

"……………Dia sangat bersih, wajahnya berseri-seri, bagus perawakannya, tidak merasa berat karena gemuk, tidak bisa dicela karena kepalanya kecil, elok dan tampan, di matanya ada warna hitam, bulu matanya panjang, tidak mengobral bicara, lehernya panjang, matanya jelita, memakai celak mata, alisnya tipis, memanjang dan bersambung, rambutnya hitam, jika diam dia tampak berwibawa, jika berbicara dia tampak menarik, dia adalah orang paling elok dan menawan dilihat dari kejauhan, bagus dan manis setelah mendekat.

Bicaranya manis, rinci, tidak terlalu sedikit dan tidak terlalu banyak, bicaranya seakan-akan merjan yang tertata rapi dan landai, perawakan sedang-sedang, mata yang memandang tidak lolos karena perawakannya yang pendek dan tidak sebal karena perawakannya yang tinggi.

Seakan-akan satu dahan di antara dua dahan, dia adalah salah seorang dari tiga orang yang paling menarik perhatian, paling bagus tampilannya, mempunyai rekan-rekan yang menghormatinya, jika dia berbicara mereka menyimak perkataannya, jika dia memberikan perintah mereka segera melaksanakannya perintahnya.

Dia orang yang ditaati, disegani, dikerumuni orang-orang, wajahnya tidak memberengut dan tidak pula orang yang diremehkan………………."

Sumber lain adalah dari Shahabat Ali Radhiyallaahu 'anhu:

"…………Beliau bukan orang yang terlalu tinggi dan tidak pula terlalu pendek, orang yang perawakannya sedang-sedang, rambutnya tidak kaku dan tidak pula keriting, rambutnya lebat, tidak gemuk dan tidak kurus, wajahnya sedikit bulat, kedua matanya sangat hitam, bulu matanya panjang, persendian-persendiannya yang pokok besar, bahunya bidang, bulu dadanya lembut, tidak ada bulu-bulu di badan.

Telapak tangan dan kakinya tebal, jika berjalan seakan-akan sedang berjalan di jalanan yang menurun, jika menoleh seluruh badannya ikut menoleh, di antara kedua bahunya ada cincin nubuwah, yaitu cincin para nabi, telapak tangannya yang terbagus, dadanya yang paling bidang, yang paling jujur bicaranya, yang paling memenuhi perlindungan, yang paling lembut perangainya, yang paling mulia pergaulannya, siapa pun yang tiba-tiba memandangnya tentu enggan kepadanya, siapa yang bergaul dengannya tentu akan mencintainya……………"

Kemudian Ali menambahkanberbicara lagi, "………..Aku tidak pernah melihat orang yang seperti beliau, sebelum maupun sesudahnya………………."

Diambil dari buku Siroh Nabawiyah, Oleh Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfury.

Dinasti Sanjaya, Sriwijaya, Kutai, dan Tarumanegara

Bukti  Dinasti Sanjaya memiliki toleransi yang tinggi
    Hubungan antara kalangan istana dan desa-desa cukup erat walaupun terdapat perbedaan antara keadaan di keraton dan di desa, rakyat biasa tidaklah terasing dari kalangan keraton. Dan juga terdapat pembagian tugas yang jelas diantara aparat kerajaan. Juga terdapat peraturan-peraturan yang perlu ditegakkan oleh semua orang karena terdapat penjahat-penjahat yang mengganggu keamanan.

Bukti Sriwijaya merupakan pusat penyebaran Agama Budha
    Kerajaan Sriwijaya menjadi pusat pertemuan antara jemaah agama Budha dari Cina ke India dan sebaliknya. Pujangga dari berbagai negeri berkumpul untuk membahas ajaran agama Budha. Melalui pertemuan ini, di kerajaan Sriwijaya  berkembang ajaran agama Budha Mahayana. Perkembangan agama Budha di kerajaan Sriwijaya banyak diberitakan oleh musafir Cina yang bernama I-tsing. Setelah bertolak ke India pada tahun 672 M dan waktu pulang pada tahun 685 M, ia singgah dan tinggal di kerajaan Sriwijaya selama 10 tahun. Ia banyak mempelajari dan menerjemahkan ajaran Budha dari bahasa Sansekerta ke bahasa Cina. Ditemukannya sebuah area Budha peninggalaan kerajaan Sriwijaya menandakan bahwa Sriwijaya sebagai pusat penyebaran agama Budha.

Hinduisme pada Kutai dan Tarumanegara
    Kutai : ditemukannya Yupa yang merupakan salah satu hasil budaya masyarakat Kutai. Yupa merupakan sebuah tugu batu untuk mengikat kurban yang dipersembahkan. Salah satu Yupa menyebutkan satu tempat suci dengan kata vaprakecvara yang diartikan sebagai sebuah lapangan luas tempat pemujaan dewa Siwa. Buktinya :
1.  Besarnya pengaruh kerajaan Pallawa yang beragama Siwa menyebabkan agama Siwa terkenal di kutai.
2.  Pentingnya peranan para Brahmana di Kutai menunjukkan besarnya pengaruh agama Siwa terutama mengenai upacara korban.
3.  Sistem pemerintahan yang awalnya pemerintahan kepala suku berubah menjadi pemerintahan kerajaan (pengaruh Hindu baru masuk pada pemerintahan Kudungga yang dilihat dari nama raja yang masih memakai bahasa Indonesia)
Tarumanegara : berasal dari berita Cina dari jaman dinasti I-ang bahwa pendeta Fa-hien dalam perjalananya dari terdampar di pantai utara pulau Jawa tahun 414 M, saat hendak kembali dari India ke negerinya, Cina, menemukan mayarakat yang mendapat pengaruh Hindu (India) di pantai utara pulau Jawa adalah prasasti-prasasti yang ditemukan menggunakan bahasa Sansekerta dan huruf Pallawa. Misal : Prasasti Ciaruteun menyebutkan bahwa telapak kaki raden Purnawarman disamakan dengan telapak kaki dewa Wisnu (dewa Wisnu adalah salah satu dewa yang dipuja masyarakat Hindu).

: Etika Bepergian

UNTUNAN
Oleh Yusuf Assidiq

Rasulullah SAW memilih bepergian jauh pada hari Senin atau Kamis.


Semasa hidupnya, Rasulullah SAW kerap melakukan perjalanan jauh.  Semasa muda, beliau biasa melakukan ekspedisi untuk berniaga. Nabi Muhammad SAW pun harus menempuh perjalanan yang cukup jauh saat hijrah dari Makkah ke Madinah. Pun dalam berbagai kesempatan, Rasulullah SAW dan para sahabat harus menempuh perjalanan jauh demi syiar Islam.

Bepergian telah menjadi bagian keseharian umat ketika itu. Kegiatan itu kemudian dilakukan oleh ekspedisi tentara Muslim, maupun umat pada umumnya, baik lewat jalan darat maupun laut. Selain syiar, perjalanan jauh biasanya dilakukan untuk beribadah, berdagang atau silaturahim.

Mengingat pentingnya tujuan perjalanan jauh ini, yang kadang harus mengorbankan biaya, waktu serta tenaga, sehingga tidak terlepas dari perhatian Rasulullah dengan memberikan tuntunan etika dan adab ketika hendak, selama maupun sepulang menempuh perjalanan jauh.

Dalam buku Rasulullah, Manusia Tanpa Cela , dijelaskan,  apabila hendak pergi menuju tempat yang jauh, Rasulullah SAW selalu memilih hari Senin atau Kamis. Nabi SAW juga tidak pernah melewatkan shalat sunah sebelum memulai perjalanan, bahkan pernah beliau terpaksa harus shalat sunah di atas punggung untanya.

Selain itu, Rasulullah pun tidak lupa pula memanjatkan doa. Imam Baihaqi meriwayatkan dari Anas RA bahwa Nabi SAW tidak hendak melakukan perjalanan kecuali beliau berdoa ketika hendak beranjak dari duduknya.

''Ya Allah, hanya dengan pertolongan-Mu hamba mengembara, dan hanya kepada-Mu hamba meminta perlindungan.'' Demikian doa yang dipanjatkan Rasulullah SAW, dan barulah setelah itu, beliau keluar memulai perjalanan jauhnya.

Diriwayatkan pula, bahwa jika hendak naik ke atas unta, maka ketika meletakkan kakinya pada pijakan kaki atau sanggurdi, Rasulullah mengucapkan bismillah sebanyak tiga kali. Jika telah berada di atas unta beliau mengucapkan  alhamdulillah sebanyak tiga kali, dan  allahu akbar sebanyak tiga kali.

Adapun menurut penjelasan Shaleh Ahmad Asy-Syaami dalam buku  Berakhlak dan Beradab Mulia , sepanjang perjalanan, Rasulullah juga tidak lepas dari berzikir dan berdoa. Nabi SAW dan para sahabat ketika melintasi sebuah jalan yang menanjak di pegunungan atau bukit, misalnya, maka akan mengumandangkan takbir. Lalu ketika turun, mereka bertasbih, layaknya orang yang sedang shalat.

Waktu pemberangkatan pun penting diperhatikan. Rasulullah SAW membenci bepergian, apalagi dilakukan sendirian, pada malam hari. Sabda beliau, ''Seandainya manusia mengetahui keburukan ketika sendirian seperti yang aku ketahui, maka tidak akan ada orang yang berjalan sendirian pada malam hari.'' (HR Bukhari)

Jika sudah datang dari perjalanan jauh, seperti tertera dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, hal pertama yang Rasulullah lakukan adalah menuju masjid, bila di Madinah, adalah ke masjid beliau, untuk shalat dua rakaat. Setelah itu, barulah beliau menerima kedatangan para sahabat serta umat yang ingin mengucapkan selamat datang.

Kedatangan beliau dari perjalanan jauh biasanya berlangsung pada pagi hari. Hal tersebut bukan tanpa alasan. Nabi SAW tidak suka mendatangi keluarganya bila datang dari perjalanan jauh pada malam hari, bahkan beliau melarang hal tersebut.

Diriwayatkan dari Anas RA, bahwa Rasulullah tidak menemui keluarganya pada malam hari, namun beliau menemui mereka pada waktu pagi atau senja hari. (HR Bukhari dan Muslim)

Tak hanya itu, papar Shaleh Ahmad Asy-Syaami, umat juga dianjurkan untuk mengantarkan orang yang hendak melakukan perjalanan jauh. Dulu, ada seorang sahabat yang hendak bepergian, maka Rasulullah mengucapkan doa kepadanya, ''Saya memohon kepada Allah agar menjaga agama, amanat dan penutup amalmu.''

Pun kepada orang-orang yang menyambut kedatangan beliau dari perjalanan jauh, Nabi SAW memberikan sambutan hangat juga pelukan. Kepada anggota keluarga yang menyambutnya, beliau tidak lupa memberikan ciuman hangat sebagai rasa syukur kepada Allah SWT yang telah mempertemukan mereka kembali dalam keadaan sehat wal'afiat

Jenis-jenis tanah di Pulau Irian (Irian Jaya)

1.Tanah Vulkanis
Ciri-cirinya : a.Butir tanahnya halus hingga menyerupai abu
                    b.Tidak mudah terbang bila ditiup angin
        c.Tanahnya sangat subur
        d.Banyak mengandung unsur hara yg dibutuhkan tumbuhan
2. Tanah Humus
Ciri-cirinya : a. Tanahnya sangat subur
        b.Berasal dr pembusukan tumbuhan
        c. Terdapat di bag. Atas dr tanah pada hutan-hutan lebat
- Berasal dari pembusukan-pembusukan tumbuhan
3.Tanah Aluvial
Ciri-cirinya : a.Tanahnya sangat subur
        b.Terbentuk dr hasil endapan di tempat yg lebih rendah
        c. Bny terdapat di lembah aliran sungai dan dataran rendah
-   Daerah ini merupakan lumbung-lumbung beras di tanah air
-   Dimanfaatkan sebagai daerah pertanian tanaman padi
-   Terdapat di daerah pantai
4. Tanah gambut
Ciri-cirinya : a. Tanahnya kurang subur
        b. Terbentuk dari bahan-bahan organik
        c. Terdapat di daerah pantai
KESIMPULAN P. IRIAN JAYA : Kondisi tanah secara umum subur, kecuali
                              Tanah gambut. Merupakan jalur gunung
                   Berapi.

Sekilas Sejarah Pengembangan Tes (Psikologi)

       Di Indonesia testing belum merupakan suatu gerakan nasional, testing sebagai suatu gerakan nasional dicontohkan dengan baik di Amerika Serikat.  Di Amerika gerakan testing psikologis berkembang sejak awal abad 19, karena kebutuhan untuk adanya instrumen pengukuran kemampuan orang sebagai akibat dari perkembangan idustri. Dunia industri dan dunia usaha membutuhkan tenaga terampil dengan bakat dan kemampuan yang cocok untuk menjalankan mesin-mesin dan melakukan pekerjaan-pekerjaan usaha modern demi efisiensi dan produktivitas. Perang dunia I juga memerlukan tenaga militer dengan kemampuan yang diidentifikasi secara cepat untuk ditempatkan atau menjadi tenaga di bagian-bagian yang ada seperti artileri, infantri, penerbang nakhoda, dan sebagainya.
       Usaha pengukuran mental dimulai dengan rintisan oleh A. Binet, seorang dokter Perancis dalam tahun 1890, yang tertarik untuk meneliti anak-anak yang pintar dan yang tidak. Usahanya bersama Simon, juga dari Perancis, membuahkan tes inteligensi Binet-Simon. Usaha tersebut kemudian diteruskan di Amerika Serikat oleh L.M. Terman dari Universitas Stanford yang bersama M.A. Merril bertujuan merevisi dan menyempurnakan tes buatan Binet. Hasilnya adalah tes kecerdasan Stanford-Binet pada tahun 1937 dengan penyempurnaan yang penting, yaitu mulai digunakannya ukuran berupa kuosien kecerdasan (intelligence quotient). Sejak itu, usaha-usaha penyusunan tes meluas dan maju pesat mencakup bidang-bidang kepribadian yang luas untuk berbagai penggunaan dan dengan menggunakan teknologi yang makin canggih. Bidang penggunaan tes meluas, tetapi sebagaimana bisa diduga pendidikan (sekolah) adalah pengguna yang utama. Diberlakukannya undang-undang pendidikan untuk pertahanan nasional (National Defense Education Act) dalam tahun 1958 dipicu oleh peluncuran Sputnik, satelit pertama dalam tahun 1957 oleh Rusia (Uni Soviet waktu itu).
      Pemerintah federal Amerika serikat menyediakan dana besar untuk pengembangan testing dan juga untuk pengembangan program konseling di sekolah menengah. Di samping itu, bidang lain yang menggunakan tes adalah kedokteran, kehakiman, militer, manajemen, dan perdagangan. Ilmuwan terkemuka dalam gerakan bimbingan (guidance) di Amerika waktu itu, di antaranya E.L. Thorndike dengan teori pengukuran mentalnya, L.M. Terman dengan tes kecerdasan Stanford-Binetnya, A.S. Otis dengan tes Army Alphanya, Strong dengan tes atau inventory minatnya, Kuder dengan tes minat, G.K. Bennet, dkk dengan tes bakat differensialnya.
       Di Indonesia, meski testing belum menjadi gerakan nasional, namun telah ada usaha-usaha pengembangan tes walaupun baru skala kecil dan masih bersifat rintisan. Sejumlah perguruan tinggi, khususnya fakultas psikologi dan IKIP (sekarang FKIP universitas) terdorong oleh kebutuhan akan cara-cara yang obyektif untuk pengukuran kepribadian, melakukan usaha-usaha rintisan pengembangan tes. Kebutuhan itu terasa mendesak di lingkungan sekolah untuk penerimaan siswa dan penyelenggaraan bimbingan dan konseling (sekarang profesi konseling), di lingkungan industri, lembaga, dan militer untuk seleksi dalam rangka penerimaan dan penempatan pegawai. Usaha-usaha itu umumnya bukan untuk menghasilkan tes baru atau asli melainkan untuk mengadaptasikan tes-tes asing yang sudah ada. Pekerjaan adaptasi meliputi penerjemahan dengan mempertimbangkan faktor sosial budaya setempat, uji reliabilitas dan validitas.
       Telah disebutkan bahwa usaha penyusunan tes telah dirintis di Indonesia oleh sejumlah lembaga pendidikan tinggi sebagai dalam rangka riset dan pengembangan. Di IKIP Malang (sekarang universitas negeri Malang) telah melakukan usaha pengembangan tes, bermula dalam tahun 1967 yang dilakukan atas kerja sama dengan ALRI untuk keperluan seleksi calon personil di lingkungan ALRI (sekarang TNI AL).
      Setelah itu, usaha-usaha yang telah dilakukan berupa pengembangan tes prestasi belajar standar untuk seleksi masuk perguruan tinggi, yang mencakup Bateri Tes Bakat Okupasional yang terdiri atas Tes Bakat Personal-Sosial, Tes Bakat Mekanik, Tes Bakat Niaga, Tes Bakat Klerikal, Tes Bakat Numerikal, dan Tes Bakat Berpikir Ilmiah dalam tahun 1979 yang dilakukan oleh Raka Joni dan Djoemadi; validasi dan penormaan tes PM (progressive matrices) dan DAT (Defferential Aptitude Test) dalam tahun 1990 dan 1992 (Munandir, 1995:12). Dalam pengembangan tes PM dan DAT berhasil disusun norma dengan sampel siswa sekolah menengah umum mencakup wilayah tujuh provinsi.
        Untuk mendukung program bimbingan dan konseling di sekolah (sekarang profesi konseling) sejak tahun 1995 telah dilakukan beberapa angkatan program sertifikasi tes psikologis bagi konselor pendidikan (yaitu para lulusan program studi BP / PPB / BK) atas kerja sama IPBI (Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia) sekarang berubah menjadi ABKIN (Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia) dengan program Pascasarjana IKIP Malang (sekarang universitas negeri Malang) dan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah DepdikNas. Melalui usaha-usaha itu diharapkan semakin menguatkan kegiatan pendukung program Bimbingan dan Konseling Pola 17 yaitu instrumentasi Bimbingan dan Konseling

Terima kasih: Duta Pulsa - Persewaan Alat Pesta - Toko Jilbab - Koleksi Abaya-Busana Muslim - Kerudung Murah

Ragam Tes Psikologis - berbagai macam jenis tes psikologis: tes inteligensi, tes bakat, tes kecerdasan emosi, tes kepribadian, tes kreativitas


Dewasa ini terdapat berbagai macam jenis tes psikologis  seperti ; tes inteligensi(intelligence test) untuk mengukur inteligensi subyek, tes bakat (aptitude test) untuk mengukur bakat / talenta subyek, tes kecerdasan emosi (emotional intelligence test) untuk mengukur kecerdasan emosi subyek, tes kepribadian (personality test) untuk mengukur aspek kepribadian subyek, dan tes kreativitas (creativity test) untuk mengukur kreativitas subyek. Dari aneka ragam tes psikologis tersebut, Cronbach (1984:29-32) mengelompokkan tes menjadi dua kelompok, yaitu test of maximum performance, dan test of  typical performance.   
1.   Test of Maximum Performance.......

..........Selengkapnya...Ragam Tes Psikologis - berbagai macam jenis tes psikologis: tes inteligensi, tes bakat, tes kecerdasan emosi, tes kepribadian, tes kreativitas

Pengertian Tes Psikologis - instrumen yang digunakan untuk mengukur kemampuan potensial psikologis subyek

Produk Cantik Ok Rek

Perhiasan dari Martapura